18 September 2014

Posted by Sri Wahyuni on 2:05 PM 25 comments
“Nduk….kemarilah, ini ada masmu!”

Aku hanya diam tak bergeming. Otakku terus berputar. Kata “masmu” yang sempat diucapkan ayah membuatku terus mencari celah penerangan tentang siapa gerangan dia yang tengah berdiri disana. Tapi…percuma saja, semuanya gelap. Bahkan ayahpun terlanjur mendekatiku bersama lelaki itu.

“Ini lho nduk masmu. Dia juga anak ayah. Namanya mas Heru.  Ayah kan pernah cerita tempo hari.”
Aku hanya manggut-manggut sambil memandangi sosok dihadapanku yang sedikit mengumbar senyum. Sejurus kemudian dia ulurkan tangannya. Namun percuma saja, jabat tangannya tak seerat yang kukira. Entah apa yang ia bayangkan tentang diriku. Harusnya sebagai saudara kandung seayah, kami saling mengenal bahkan saling akrab. Tetapi ia bak musuh yang tak ingin mengenalku lebih jauh.

Aku tak mau menganggap pernikahan ayah dan ibu sebagai hubungan sebab-akibat, disebabkan ibu tinggal serumah dengan keluarga ayah, akibatnya ibu harus menerima lamaran ayah setelah istri pertamanya meninggal. Bukan juga secara kebetulan. Namun takdir Allah-lah yang menyatukan hubungan ayah dan ibu dalam sebuah ikatan suci.

Kadang apa yang telah menjadi suratan takdir, tak bisa diterima oleh mata manusia. Seperti lelaki itu, yang dulu selalu bermain bersama ibu semasa gadis, tiba-tiba harus menerima kenyataan bahwa gadis itu kini menjadi ibu tirinya. Ia sempat menolak, bahkan pergi meninggalkan ayah bertahun-tahun lamanya.

Rupanya kedatangan lelaki itu tak lain hanya untuk meminta bagian warisan kepada ayah. Ayah memang lelaki yang bijaksana. Beliau masih tetap peduli kepada anaknya yang sudah lama melupakannya. Akhirnya karena anak ayah ada tiga orang, dia, aku dan adik, beliau membagi warisannya menjadi tiga bagian yang sama rata. 

Yah…itu kenangan duapuluh tahun silam, ketika aku dan adik masih kecil, ketika lelaki itu masih terlihat gagah. Bahkan ketika ayah masih ada. Hanya satu yang masih kuingat tentang ayah, tentang petuah beliau yang membuatku sadar.

“Biarkan masmu memilih jalan hidupnya.” Ayah tak akan mencampurinya. Dulu sebelum kalian ada (--aku dan adik), dia adalah anak satu-satunya ayah, yang sangat ayah harapkan. Ternyata ia salah langkah, meninggalkan tunangannya dan terjerat cinta wanita yang tak tahu sopan santun itu. Sampai-sampai ibunyapun sakit gegara memikirkan dia.

Tentang ibu…rupanya beliau mempunyai kenangan dengan lelaki itu. Dulu mereka pernah tinggal serumah, karena orang tua mereka sama-sama bersaudara. Nenek menitipkan ibu pada keluarga ayah, agar bisa melanjutkan sekolah. Namun siapa sangka istri ayah yang masih saudara dekat ibu meninggal lebih dulu. Demi balas budi, ibupun menerima lamaran ayah. Sungguh sebuah liku-liku kehidupan yang telah diskenario oleh-Nya.

Sejak pertemuan itu, aku memang berniat ingin menganggap lelaki itu sebagai kakak. Namun, ternyata ada dinding penyekat yang membuat kami jauh. Apalagi setelah ayah tiada, dia seolah menghilang dari kehidupan keluarga besarnya. Aku tak tahu apa penyebabnya. 

Tapi nenek pernah bilang dengan lagak Jawa-nya:
“Masmu itu ibarat Kesrimpet Bebed Kesandhung Gelung.” Sudah punya tunangan yang cantik, eee....malah pergi demi wanita yang jahat itu. Bahkan masmu tak berkutik dihadapan wanita itu. Ia selalu tunduk pada perintahnya, sehingga yang dimaui wanita itu akan diturutinya.

Meski begitu aku masih berharap suatu saat bisa menjabat erat tangan lelaki yang seharusnya kupanggil kakak. Sungguh aku tak ingin memutuskan hubungan persaudaraan dengannya, meski istrinya menghalanginya.

Penantianku terasa begitu panjang. Bahkan aku seperti putus asa, tak mau lagi berharap terlalu banyak. Aku masih ingat ketika pernikahanku yang membutuhkan wali, karena ayah telah tiada. Iapun menolak mentah-mentah, bahkan ia sempat berucap tak pernah mempunyai adik. Dan aku bisa menerima keadaan itu.

Namun ketika adikku yang menikah, kejadian itu sempat membuat geram semua orang. Adikku yang datang bersama calon suaminya, menghiba agar lelaki itu bersedia menjadi walinya, ternyata tidak diijinkan masuk rumahnya. Bahkan berulangkali gedoran pintu itu tak membuatnya bergerak untuk membukanya. Berjam-jam mereka menunggu di teras rumahnya. 

Hanya satu yang membuatnya takut karena gertakan pak penghulu yang mengantar adikku:
“Pak Heru, kalau bapak tidak bersedia menjadi wali, atau tidak mau menandatangani surat ini, itu artinya bapak sudah meninggal.” Kalau begitu surat ini akan saya rubah dengan memberikan embel-embel “almarhum” didepan nama bapak.”

Sontak lelaki itu keluar dari dalam rumahnya untuk menghampiri selembar surat, setelahnya ia bubuhkan tanda tangan diatasnya. Sayang, ia bak robot yang digerakkan oleh pemiliknya, kapasitasnya hanya untuk menandatangani, tanpa basa-basi langsung kembali dan mengunci rapat-rapat pintu rumahnya. Sungguh memilukan.

Dan lebaran tahun ini adalah lebaran teristimewa untukku. Bukan saja aku bisa pulang mengunjungi kampung halaman untuk bertemu ibu dan nenek, bahkan keinginanku dikabulkan Allah. Tanpa kuduga aku bisa bertemu dengan lelaki itu di rumah nenek. Padahal sebelum lelaki itu datang nenek sempat berucap kalau ia sering datang ke rumah nenek setiap lebaran.

Begitu nenek selesai bicara, datanglah sepasang suami istri yang terlihat sangat renta. Sang istri dengan balutan busana muslim terlihat tengah memapah suaminya yang tampak tidak sehat. Rambutnya memutih, sorot matanya tajam menghunjam memandang kami. Tiba-tiba nenek berteriak:
“Heru……”!

Semua terjadi begitu cepat. Kami tersekat dalam diam dan kaget. Namun kami bisa berjabat tangan dan mengumbar senyum, meski tanpa tatapan mata. Bahkan lelaki itu masih mau mengelus rambut anakku. Sekali lagi, air mataku tak bisa kubendung. Rasa harupun menyelimuti hatiku. Meski setelahnya mereka lekas berlalu undur diri. 

Kesrimpet Bebed Kesandhung Gelung adalah pepatah Jawa yang artinya terjerat bebed (kain jarik) tersandung gelung (konde), dengan kata lain "bebed" dan "gelung" itu identik wanita itu sendiri, jadi secara keseluruhan dapat diartikan sebagai peristiwa terjeratnya seorang pria (biasanya telah mempunyai pasangan) pada wanita lain (gadis/janda/ibu rumah tangga), yang berakibat rusaknya hubungan kekeluargaan, harta benda yang habis atau kehilangan pekerjaan.


banner
Categories:
Reaksi:

25 komentar:

  1. Seneng ya mbak bisa ketemu sodara lg meskipun cuma sesaat. Semoga sukses ngontesnya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. seneng banget mbak, karena bertahun-tahun saya mengharapkannya, terima kasih

      Hapus
  2. Kalau bahasa sekarang, STI, suami takut istri ^_^
    Keren nih GAnya mas Belalang Cerewet, jadi dapat kosakata baru dari para pesertanya.
    Sukses ya, mbak Yuni :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya semacam itulah mbak Indah...laki-laki yang menurut apa kata istrinya, bahkan tak berani berkutik dihadapan istrinya......terima kasih

      Hapus
  3. Akhirnya dipertemukan juga yah mak sama sang kakak :))
    Ceritanya semacem memutus tali silaturahmi ya, sayang banget..

    btw, goodluck ngontesnya mak ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya begitulah...ia terpaksa memutuskan hubungan persaudaraan demi wanita yang dicintainya..

      Hapus
  4. Kalau Kesrimpet dan Kesandhung saya tahu artinya. Tapi kalau Bebed dan Gelung itu apa, ya, Mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bebed itu kain jarik mas, atau sarung tapi yang tidak dijahit, pernah dengar bebedan sarung? artinya tubuhnya dililit atau dibalut sarung....kalau gelung itu semacam konde, orang jaman dulu bilang gelungan tapi kalau sekarang kondean hehehe

      Hapus
  5. Setuju dengan pendapat Makpuh. Termasuk ISTI berarti :)

    BalasHapus
  6. bukan, ini mah ISTIKOMAH.....
    ISTI, ikatan suami takut istri ikut komando dari rumah

    BalasHapus
    Balasan
    1. keren.....keren istilahnya mak Tanti, catet ah hahaha....

      Hapus
  7. lika liku kehidupan ya mba... Semoga yg terserak bisa kembali bersatu. Semoga sukses ngontesnya ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya bener.....amin terima kasih ya mbak

      Hapus
  8. gitu... Nurutnya ama istri ya... Isti bingits... He2

    Sukses GA nya mba...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe....iya mba bener banget...makasih ya

      Hapus
  9. gitu... Nurutnya ama istri ya... Isti bingits... He2

    Sukses GA nya mba...

    BalasHapus
  10. mirip sinetron tapi nyata ya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe...bener mbak ini kisah nyata

      Hapus
  11. Wahahaha unik nih. Nanti bisa bisa muncul Komunitas baru. Komunitas Suami Takut Istri alias disingkat jadi STI. Udah keren singkatannya. Udah mirip nama Kamus.eh salah Kampus wahahahahahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang unik yang mana mas? ceritanya, pepatahnya atau istilahnya hehehe.......

      Hapus
  12. Jadi Mas Heru ini beda ibu ya, Mbak? ;-)

    BalasHapus
  13. Pasangan hidup, sebentuk pilihan. :D

    Alhamdulillaah masih bisa bertemu dg kakak ya, Mba.



    BalasHapus
  14. wah luar biasa ya makna dari kesrmpet bebed kesandung gelug ini, saya sebagai orang jawa malah nggak tahu hehehe dan baru setelah baca artikel ini :D

    BalasHapus
  15. takdir itu sudah digariskan, kalau sudah takdir pasti akan dipertemukan

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...