30 Agustus 2014

Posted by Sri Wahyuni on 11:19 PM 18 comments
“Jangan terlena dengan fasilitas negara.” Kata-kata ini yang selalu terngiang dalam telinga saya. Terus terang semenjak menikah, saya selalu mendampingi suami yang sering berpindah-pindah tugas. Tempat tinggalpun bergantung dari fasilitas negara alias gratis.

Namun, siapa bilang fasilitas negara itu gratis. Dulu, ketika saya masih tinggal di Papua, mendapatkan rumah dinas itu sangat mudah, bahkan gratis. Andaipun ada yang minta biaya ganti rumah, tentunya masih sangat wajar. Dan saya bersyukur, rumah dinas yang kami tempati gratis, bahkan demi kenyamanan selama tinggal di rumah itu, saya dan suami merenovasinya menjadi lebih bagus.

saat di Papua

Kami tak pernah meminta biaya ganti perbaikan rumah. Ketika suami mendapat tempat tugas baru, rumah itupun kami tinggalkan tanpa meminta ganti rugi kepada penggantinya. Namun, kenyataan berbanding terbalik ketika suami berdinas di Bali. Rumah dinas yang semestinya menjadi milik negara ternyata sudah menjadi milik pribadi. Si pemilik rumah telah merehapnya sedemikian rupa, sehingga bila ia pindah tugas, maka harga jualnyapun semakin tinggi.

Terdengar aneh memang, rumah dinas diperjualbelikan. Namun inilah kenyataannya. Dimana-mana tradisi ini seolah sudah turun temurun dan tak bisa dihapuskan, bahkan oleh penguasa sekalipun. Kami, yang sudah habis-habisan karena seluruh tabungan kami gunakan untuk pindahan dari Papua ke Jawa, bahkan membiayai suami yang harus sekolah, rasanya tak sanggup untuk membeli rumah dinas sampai ratusan juta.

Jalan satu-satunya kami harus menyimpan rasa malu untuk mendapatkan rumah. Akhirnya saya dan suami menerima keadaan bahwa kami harus tinggal satu rumah dengan keluarga lain. Sudah bisa dibayangkan bagaimana ribetnya tinggal dengan keluarga lain yang belum kenal sebelumnya. Apalagi yang tinggal serumah dengan kami tidak bisa diajak kerjasama dalam hal membersihkan halaman, membayar listrik atau air. Terpaksa kami harus ikhlas mengalah demi sebuah tempat tinggal.

saat masih tinggal serumah dengan keluarga lain
Kalau ditanya “betah”? Sudah tentu kami tidak betah. Kami jadi tidak mempunyai privacy. Namun tidak ada pilihan lain. Hanya sabarlah yang membuat kami tetap bertahan di rumah itu. Ternyata kesabaran itu berbuah manis. Selang satu tahun, suami saya mendapatkan sebuah rumah jabatan. Meski rumah itu mungil, namun saya sangat bersyukur. Artinya saya telah terbebas dari sebuah belenggu yang sempat menahan ego saya.

rumah jabatan di Bali
Rasa gusarpun kembali menerpa saya. Akan kemana kami setelah suami pindah jabatan? Tentunya saat pergantian jabatan nanti, kami harus menyerahkan rumah dinas itu kepada pengganti suami. Apabila jabatan baru suami tidak mendapatkan jatah rumah dinas, tentunya kami harus memikirkan biaya mengganti rumah dinas lain. Sementara bergantinya tahun membuat harga rumah dinas makin mencekik leher saja. Untuk kembali rumah lama rasanya sudah tidak mungkin, karena rumah itu telah ditempati oleh dua pasang keluarga.

Lantas kamipun berinisiatif membuat rangka rumah kayu, dengan harapan ketika kami harus meninggalkan rumah jabatan, kami masih bisa mempunyai rumah sendiri tanpa membayar ganti rugi. Cukup ijin kepada pimpinan untuk meminjam tanah guna membangun rumah untuk sementara waktu.

Saya dan suami mempunyai mimpi yang sama, mempunyai rumah kayu mungil yang berdiri diatas tanah yang luas. Itulah sebabnya ketika masih di Papua suami saya menabung kayu besi. Tumpukan kayu yang dibeli dari pengusaha kayu kemudian dibuat pintu, kusen, jendela dan papan penutup. Kini, sebagian kayu itu sudah diolah sedemikian rupa menjadi rangka rumah kayu dan kami bawa ke Bali sebagai persiapan sewaktu-waktu bila rumah jabatan yang kami tempati beralih kepemilikan.

credit. rumah kayu inspirasi

Namun niat kami mendapat tentangan dari mertua pada awalnya. Mereka menyarankan agar kami tidak usah dulu memikirkan rumah. Kemanapun berdinas, suami saya pasti mendapatkan rumah dinas. Andai mempunyai uang, sebaiknya uang itu ditabung saja sebagai bekal hari tua. Setelah mengetahui kenyataan yang kami hadapi, akhirnya merekapun menyetujuinya.
Membuat rangka rumah kayu ternyata butuh biaya banyak. Kami harus kembali merogoh kocek yang lumayan menguras tabungan demi sebuah rumah kayu. 

Namun, akhirnya kami merasa lega, potongan rumah kayu yang menyerupai puzzle itu kami simpan sebagai persiapan membangun rumah suatu saat.
Tetapi….manusia hidup memang tak lepas dari mimpi. Siapapun pasti mempunyai sejuta mimpi dalam hidupnya, termasuk saya. Saya termasuk pemuja mimpi, karenanya saya terus berjuang merajut mimpi-mimpi itu menjadi kenyataan. Dan hanya orang yang beranilah yang sanggup mewujudkan mimpinya.

Bermimpi itu gratis, tak dipungut biaya sepeserpun. Siapapun berhak merenda mimpinya. Justru dengan semakin banyaknya mimpi, sayapun semakin bersemangat meraihnya. Mimpi properti adalah impian terbesar saya. Saya pernah terperanga dengan gurauan seorang teman. Dia mengatakan, “masak kalah dengan anak-anak muda, mereka bekerja keras, ulet dan tekun, sampai akhirnya bisa membeli rumah sendiri, bagus pula!”

Memang saya sudah mempunyai tabungan rumah kayu yang siap saya dirikan kapanpun saya mau. Namun untuk membuatnya berdiri kokoh tentunya masih butuh biaya. Rasanya kalimat teman saya membuat saya kembali berpikir. Orang yang usianya dibawah saya sudah berhasil mempunyai rumah dengan kerja kerasnya. Sementara saya? Lantas timbul keberanian saya untuk mengejar mimpi properti saya. Dengan persetujuan suami akhirnya kami mengambil rumah secara kredit di daerah Malang. Rumah itu untuk sementara waktu kami jadikan sebagai investasi. Saya bersyukur saat ini rumah itu sudah dikontrak orang, sehingga tiap tahun ada penghasilan tambahan dari kontrak rumah.

rumah investasi di Malang
Sekali lagi mimpi saya tak cukup sampai disitu. Seperti layaknya manusia hidup, sayapun belum puas dengan satu mimpi. Saya melihat teman sekolah yang sukses dengan bisnisnya. Ada yang berbisnis kuliner, laundry, budidaya ikan dan sebagainya. Yang membedakan saya dengan mereka, mereka adalah pegawai negeri, sementara saya hanyalah seorang ibu rumah tangga.  Namun saya yakin, tak ada yang bisa menghalangi ibu rumah tangga untuk terus bermimpi.

Melihat kesuksesan teman saya, seolah memacu semangat saya untuk terus menggapai mimpi properti saya. Saya bukan iri pada keberhasilan mereka, namun lebih termotivasi dengan jiwa dan semangat bisnis mereka. Apalagi dalam obrolan di sebuah WhatsApp Group, ketika saya share gambar “abon gulung khas Papua” dan “mukena Bali”. Sempat mencuat topik bahasan yang menarik tentang siapa pembuat abon gulung dan mukena Bali.

abon gulung khas Papua
Seperti abon gulung, meski khas Papua tentunya pencetus dan pembuat oleh-oleh itu bukan asli orang Papua. Demikian juga dengan mukena Bali. Ternyata mukena itu dijahit oleh orang Jawa yang hijrah ke Bali. Bisa jadi tempat produksinyalah yang menjadi penyebab oleh-oleh itu terkenal di daerahnya.

Apalagi ketika saya mengunjungi pusat oleh-oleh terkenal di Bali, saya makin terinspirasi ingin mewujudkan mimpi properti saya. Dan memang benar, usia seperti saya saat ini, harus berani berjuang demi masa depan keluarga, demi kebahagiaan orang-orang yang saya cintai.

credit. mukena Bali
Terus terang sampai detik ini saya belum bisa membahagiakan ibu. Saya tak ingin kehilangan momen kebersamaan dengan ibu sebelum saya bisa mewujudkan impian saya. Mungkin ibu saat ini sedikit lega, karena rumah masa kecil saya yang kini ditempati beliau perlahan-lahan saya renovasi dengan dana seadanya. Namun saya masih sedih ketika melihat ibu masih berjuang demi kehidupannya.

rumah masa kecil saya

Sementara disisi lain, banyak saudara suami saya yang hidup serba kekurangan. Saya ingin terus membantu mereka dengan segenap kemampuan saya. Untuk itulah mulai detik ini saya ingin mewujudkan mimpi properti saya. Jalan satu-satunya saya dan suami harus mengencangkan ikat pinggang dan menggemukkan tabungan.

Lalu apa mimpi properti saya?

Masih tetap seperti semula. Saya ingin mempunyai tanah yang luas dan dibangun rumah kayu mungil didalamnya. Rumah itu adalah rumah utama, tempat keluarga kecil saya berteduh. Sama seperti rumah-rumah lain, rumah impian saya terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, kamar mandi, kamar tidur dan satu ruangan khusus untuk saya jadikan inspirasi menulis. Rumah itu dikelilingi kayu dan kaca sehingga mendapat pencahayaan alami dengan banyak fentilasi yang membuat semua ruangan terasa sejuk dan segar.

sumber gambar disini
Di sekeliling rumah saya buat taman yang hijau dengan aneka bunga yang wangi, sehingga ketika jendela kamar saya buka, bau bunga itu semerbak hingga masuk ruangan. Lalu saya buat pagar pendek mengelilingi tanah yang luas.

Bagaimana bila ada saudara, teman atau kerabat yang menginap?

Mimpi properti saya bukan hanya sampai disitu. Tanah yang luas itu saya bagi menjadi beberapa bagian. Ada beberapa rumah yang saya bangun terpisah di sisi kiri – kanan rumah utama. Bangunan itu sama mungilnya dan lengkap dengan kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Namun bukan berarti bangunan itu benar-benar terpisah dari rumah utama, masih ada jalan penghubungnya atau lampu penerang yang menerangi satu bagian dengan bagian lainnya. Rumah-rumah itulah yang saya jadikan rumah penampungan bagi siapa saja yang ingin bermalam di rumah saya.

sumber disini
Satu hal lagi, mimpi properti saya adalah ingin sukses di tanah kelahiran. Saya asli Blitar, dan Blitar terkenal karena makam Bung Karno ada disana. Bahkan keunikan beberapa daerah lainnya, menjadikan Blitar menjadi kota wisata. Begitu melihat model dan tata ruang oleh-oleh khas Bali, sayapun terinspirasi ingin mengembangkan oleh-oleh khas Blitar.

sumber disini
Meski tergolong kota yang masih sepi, namun Blitar mempunyai banyak potensi. Banyak home industri tercipta disana, seperti pengrajin kayu, pengrajin batik, aneka oleh-oleh berbahan hasil laut, kuliner khas Blitar dan masih banyak lagi. Mimpi properti saya adalah ingin mendirikan pusat oleh-oleh khas Blitar yang menghimpun berbagai ciri khas tiap-tiap daerah di Blitar. Saya akan keliling ke seluruh kota dan desa di Blitar guna mencari tahu apa saja kekhasan mereka, termasuk makanan, hasil karya/kerajinan dan sebagainya.

sumber disini
Setelah saya buat daftar ciri khas masing-masing daerah, lalu saya akan menawarkan kerjasama dengan mereka. Dengan kata lain saya akan meminta para pembuat makanan atau kerajinan di daerah masing-masing untuk menitipkan barang dagangannya ke toko saya dengan sistem bagi hasil. Untuk itu guna menampung barang dagangan dan proses produksi, mimpi properti saya selanjutnya adalah membangun satu rumah lagi di belakang rumah utama, yang saya namakan rumah produksi.

Untuk merealisasikan tempat penjualan oleh-oleh khas Blitar, saya akan membeli tanah yang tempatnya cukup strategis untuk dikunjungi para wisatawan, baik dari Blitar maupun luar Blitar. Tempat itu akan saya bangun beberapa bagian yang terdiri dari tempat aneka kerajinan, aneka tas dan batik, aneka kaos, aneka makanan atau oleh-oleh khas daerah masing-masing. Sedang satu bangunan khusus saya bangun untuk tempat wisata kuliner. Disitu merupakan tempat para wisatawan memanjakan  lidah dengan masakan tradisional khas daerah-daerah di Blitar, lengkap dengan ruangan untuk pertemuan.

Disamping itu akan saya buat tempat bermain anak seperti ayunan, mandi bola dan sebagainya. Tak lupa ada mushola dan kamar mandi. Sedang halaman parkir akan saya buat sedemikian rupa agar semua kendaraan pengunjung dapat tertampung disitu. Semua ini adalah bagian dari mimpi properti saya.

Lalu apa tujuan mimpi properti saya?

Ketika mimpi itu saya bangun, tentu ada maksud tertentu dibalik mimpi saya. Tanah luas dengan bangunan rumah kayu mungil sebagai rumah utama, di samping kiri-kanan adalah rumah penginapan dan di belakang rumah produksi. Sementara di tempat lain adalah pusat penjualan atau tempat bisnis, yang suatu saat dapat dikembangkan menjadi beberapa cabang tentunya bertujuan demi masa depan.

Saya ingin masa depan anak saya cemerlang, artinya saya bisa mewujudkan cita-cita anak saya tanpa adanya hambatan. Saya juga ingin masa tua saya mempunyai jaminan, sehingga saya tak lagi menumpang kebahagiaan milik anak saya. Selain itu saya ingin membahagiakan ibu saya. Saya juga ingin mengajak saudara, kerabat, teman atau siapa saja bergabung dan bekerjasama memajukan bisnis demi masa depan mereka. Saya bahkan ingin menampung semua teman entah itu teman SD, SMP, SMA atau teman kuliah yang ingin mengadakan reuni, akan saya sediakan tempat untuk mereka, agar mereka tidak lagi kebingungan menyewa tempat reuni, termasuk hidangannya.


Mungkin mimpi properti saya tak bisa diwujudkan dalam sekejap. Butuh kerja keras yang panjang dan semangat untuk merealisasikan. Saat ini saya dan suami tengah berjuang mengencangkan ikat pinggang demi menggemukkan tabungan. Semoga mimpi saya tak terlalu jauh, saya akan terus memperjuangkannya demi masa depan. Karena saya yakin, semua pasti indah pada waktunya.

banner250x300

Yuk segera bangun mimpi Anda, berjuanglah untuk mengejarnya, dan jangan lupa ikuti 
Categories:
Reaksi:

18 komentar:

  1. Semangat Yun. Dare to DREAM. Dare to BIG DREAM. Never give up on your Dream.
    Salut ma kamu (y) :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih Atik atas supportnya, aku akan terus mengejar mimpiku sampai mimpi itu benar-benar terwujud......

      Hapus
  2. Semoga tabungannya cepat gemuk dan impiannya segera tercapai :)

    BalasHapus
  3. Rumah dinas kok diperjual belikan. Emang gak ada sangsi dari instasinya, Mbak Yuni? Oh ternyata dapat rumah dinas juga perlu pengornan ya :)

    BalasHapus
  4. Bersyukurlah Mbak....sudah terpikirkan untuk memiliki rumah sendiri walaupun kini masih tinggal di rumah dinas... Ada seorang temanku yang tinggal di rumah dinas tetapi ketika rumdin itu akan ditarik kembali oleh pemerintah dia dan beberapa orang komplek rumdin itu resah...menolak untuk ditarik kembali dengan alasan tak ada tempat tinggal lagi... Lalu akupun berfikir...lho koq bertahun2 menempati rumdin mereka terlena dan lalai menyiapkan kehidupan masa depan setelah tak lagi aktif berdinas... Untunglah temanku itu segera mencari rumah sesuai kemampuan secara kredit... Sejak saat itu temanku tak lagi gelisah setiap ada issue rumdin itu akan ditarik pemerintah...

    BalasHapus
  5. Saya juga bermimpi punya rumah mungil dengan halaman dan kebun yang luas sehingga kalau kopdar asyik. Kebun ditanamai bunga dan buah yang enak agar peserta kopdar bisa membawa pulang oleh2 buah dari kebunku
    Semoga berjaya Jeng
    Salam sayang dari Surabaya

    BalasHapus
  6. Rumah mimpinya bagus bgt, maakkk..

    BalasHapus
  7. Suka bgt sama rumah kayunya mbak.. homy banget. Semoga tercapai semua impiannya :)

    BalasHapus
  8. Semoga terwjud and gut lak...ya mbak..:)

    BalasHapus
  9. wah.. keren rumah kayunya, simple, minimalis tapi elegan :D
    mantep dah

    BalasHapus
  10. semoga segera terwujud tante mimpinya

    BalasHapus
  11. impiannya punya rumah kayu ya mbak

    BalasHapus
  12. Memiliki rumah kayu sama dengan mendukung program go green. Sukses mbak Yuni!

    BalasHapus
  13. Rumah kayunya cantik, Mba. Nanti, sampingnya dikasih gazebo2 mungil juga yoo. Apiik. . .

    BalasHapus
  14. mantap ulasan nya. dan sangat bermanfaat untuk saya pribadi. dukung sy bro untuk acara kontes yang sedang saya ikutkan.

    " sarang303 agen bola sbobet ibcbet casino 338a tangkas togel online indonesia terpercaya "

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...