27 Agustus 2014

Posted by Sri Wahyuni on 2:12 PM 10 comments
Saat ini saya tengah menikmati peran sebagai wanita pendamping suami dan pengasuh anak, alias ibu rumah tangga. Mengikuti suami yang sering berpindah tugas menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi saya. Selain bisa berinteraksi dengan alam sekitar, saya jadi tahu banyak hal tentang lingkungan yang saya diami, termasuk budaya, adat istiadat dan kebiasaannya.

Sejak kecil saya memang hobi traveling. Mengikuti nenek yang selalu berkunjung ke sanak saudara yang berbeda daerah sering saya lakukan. Bahkan, memasuki usia 17 tahun, ketika saya telah memiliki SIM dan ibu membelikan sepeda motor, sayapun jadi sering jalan-jalan bersama teman. Menikmati perjalanan membuat hati dan pikiran saya jadi tenang.
Namun, saya tak pernah membayangkan nikmatnya naik pesawat ketika bepergian keluar pulau. Rasanya memang tak mungkin dengan keadaan saya saat itu untuk membeli tiket pesawat. Saya hanya menganggap bahwa para bos-lah yang mampu bepergian menggunakan pesawat dengan harga tiketnya yang mahal.

Yah…hidup itu tak ubahnya seperti aliran air sungai. Ketika sungai itu mengalirkan sampah yang dibuang sembarangan, maka yang saya lihat adalah seonggok sampah yang berbau dan tak sedap dipandang. Tapi apa mau dikata, onggokan sampah itu sudah terlanjur mengalir dan sayapun sudah melihatnya. Hanya perlu kesadaran pribadi untuk menyingkirkan sampah-sampah itu, atau bahkan berjanji tak akan mencemari sungai dengan sampah, agar aliran air itu tampak jernih.

Begitupun dengan kehidupan. Saya tak tahu bagaimana sesungguhnya alur kehidupan saya. Yang saya ingat, saya dibesarkan dalam sebuah keluarga bahagia. Saya berhasil menamatkan pendidikan hingga sarjana, lalu saya sempat bekerja selama tiga tahun, setelahnya saya menikah dan mengikuti suami yang sering pindah tugas. Sungguh sebuah alur kehidupan yang tak pernah saya rencanakan sebelumnya.

Sebagai manusia yang beriman, saya meyakini bahwa cerita kehidupan yang tengah saya perankan, tentunya atas kehendak Allah sebagai pencipta alam beserta isinya. Tinggal bagaimana saya merawat, menjaga dan memperbaiki kehidupan saya seperti jernihnya aliran air sungai itu.

Dan semenjak mengikuti tugas suami, pesawat menjadi tunggangan utama saya. Dulu ketika masih di Papua, saya pernah mengeluhkan harga tiket pesawat untuk mudik ke Jawa. Bahkan saya selalu berharap agar suami saya dipindahtugaskan ke tempat yang lebih dekat dengan kampung halaman. Apalagi pengalaman pertama anak saya ketika naik pesawat, dia selalu teriak histeris ketika pesawat take off, atau dia menangis sepanjang perjalanan dari Makassar hingga Timika, membuat saya enggan pulang kampung.

Kini doa saya terkabul. Suami saya dipindahtugaskan ke Bali. Artinya untuk pulang ke kampung halaman dapat saya jangkau melalui berbagai jalur, bisa jalur darat bisa juga jalur udara. Menjadi istri tentara memang harus tahan banting, harus bisa mandiri dan siap ditinggal tugas. Saya beberapa kali mengalami hubungan jarak jauh karena suami menempuh pendidikan atau melaksanakan tugas.

Bali memang pulau yang penuh dengan eksotika budayanya. Rasanya seperti bermimpi ketika bisa tinggal di pulau ini untuk beberapa saat. Dulu, ketika saya masih sekolah, cerita teman tentang keindahan pulau Bali membuat saya iri hati. Bahkan saya sempat berangan ingin menjamah Bali dan menikmati pemandangannya. Namun angan itu hanyalah mimpi, hasrat ingin berlibur ke Bali tak juga jadi kenyataan. Kini….ketika saya benar-benar berada di pulau ini, serasa keajaiban itu tengah melingkupi saya.

menikmati pemandangan dan wisata di Pulau Dewata
Semenjak menetap di Bali saya jadi sering pulang ke Blitar dengan pesawat. Selain cepat, hanya butuh waktu 45 menit dari Bandara Ngurah Rai ke Bandara Juanda, saya juga nyaman. Bahkan harga tiketpun terjangkau. Anak saya yang dulu sangat ketakutan naik pesawat, kini jadi ketagihan. Apalagi pelayanan crew pesawat yang amat menyenangkan, membuat saya puas menggunakan jalur udara ketika pulang ke kampung halaman.

Meski anak saya lahir di Papua, sempat satu tahun tinggal di Blitar, dan kini ikut menetap di Bali, namun kenangannya tentang Blitar masih tetap membekas. Bali memang kental dengan adat istiadatnya. Mayoritas penduduknya beragama Hindu. Itulah sebabnya aktifitas di Bali tidak sepadat kota-kota lain di Indonesia. Demi menghormati adat istiadatnya, umat Hindu harus mengutamakan ibadahnya, sehingga banyak hari libur di Bali. Hari libur itulah yang sering saya manfaatkan untuk pulang kampung.

Berbicara pulang kampung, saya jadi sering berburu tiket pesawat yang murah. Hanya AirAsia-lah yang sering mengadakan promo besar-besaran. Selain memberikan harga promo, saya nyaman dengan pelayanannya. Pramugarinya yang ramah dan baik, membuat anak saya ketagihan untuk naik AirAsia. Bahkan saya pernah kehilangan boarding pass karena kecerobohan saya. Boarding pass yang seharusnya saya simpan, saya taruh diatas tas ketika duduk di ruang tunggu. Begitu panggilan itu berbunyi, saya langsung ngacir dan jatuhlah boarding pass itu. Namun berkat kesigapan petugas, akhirnya boarding pass saya ditemukan, sayapun bisa kembali menikmati perjalanan bersama AirAsia.

AirAsia mendekatkan yang jauh, memudahkan yang susah,
dan mewujudkan impian
Bahkan saya berencana ingin mengajak berlibur anak ke luar negeri. Selain ingin menikmati liburan, saya juga ingin mengenal lebih jauh budaya negara lain, termasuk kuliner, tempat bersejarah dan wisata alamnya. Menurut informasi teman saya, hanya AirAsia-lah yang sanggup membawa kita melancong keluar negeri tanpa terbebani biaya yang mahal.
Apalagi pelayanan para crew AirAsia yang sangat memuaskan, tentunya perjalanan sejauh apapun tak akan membuat kita bosan. Saya membayangkan seandainya dapat mendarat ke Nepal, menikmati pemandangan alam disana, melihat peninggalan sejarahnya, mencicipi kulinernya atau bahkan bisa berfoto ria dengan warga Nepal…..duh rasanya seperti sebuah keajaiban melingkupi saya.

Atau mungkin saya bisa menjejakkan kaki ke Penang, menikmati segala keindahan di pulau itu….benar-benar saya menjadi bagian dari kehidupan di negeri dongeng. Namun saya yakin, bersama AirAsia impian saya pasti berubah menjadi kenyataan. Saya siap melancong keliling dunia tanpa gusar karena kehabisan dana. Bersama AirAsia segalanya akan terasa indah, karena AirAsia mendekatkan yang jauh, memudahkan yang susah dan mewujudkan impian.



 
Tulisan ini diikutsertakan dalam 

"Kompetisi Blog 10 Tahun AirAsia Indonesia"

Categories:
Reaksi:

10 komentar:

  1. saya belum pernah naik AA mbk,sukses untuk kontesnya ya... :)

    BalasHapus
  2. sama dengan komen di atas saya. belum pernah juga naik airasia :D hehehe good luck, maaak. good luck with me too. sukses buat kita berdua. amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin....amin yra...mudah-mudahan mimpi kita terwujud ya mbak....

      Hapus
  3. Yuk jalan-jalan ke luar negeri rame2
    Jadi kange naik pesawat
    Semoga berjaya dalam kontes
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya malah belum pernah ke LN Pakdhe...pengen banget kesana hehehe....
      Terima kasih Pakdhe

      Hapus
  4. semoga bia ke Nepal ya mbak

    BalasHapus
  5. Saya baru sekali pake Air Asia saat dari Denpasar ke Jakarta. Ganti Pesawat pada awalnya sih lalu dipindakan ke Air Asia. Sayang sekali saya nda dokumetasikan ya. Hiehiheiheie. Jadi agak susah ikutan kontes AA ini

    BalasHapus
  6. Jebulane dr kecil udah suka terbang ya, mba. Skrg merantau udah gak kaget yooi. . .

    BalasHapus
  7. Saya juga belom pernah naik Air Asia. Teman kantor saya dulu langganan kalau ke Batam. Bagus katanya. Makanya dia sering pake AA. Semoga berjaya ya Mbak dalam kontes ini.

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...