28 Juni 2014

Posted by Sri Wahyuni on 1:28 PM No comments
Suatu hari ketika aku akan keluar dari rumah, kulihat seorang pengemis tua berdiri di depan pagar rumahku. Kakek itu berkali-kali mengusap matanya. Entah ada apa dengan kedua matanya hingga berulangkali diusapnya. Lantas suamiku mengeluarkan dua keping uang recehan dari dalam sakunya. Aku disuruh memberikannya kepada sang kakek. Namun urung dilakukan, uang itu terlalu sedikit untuk kakek itu, kata suamiku kemudian. Ia kembali menyuruhku memberikan selembar uang lima ribuan.

credit


Ketika kuberikan uang itu, sang kakek seolah tak bisa melihat. Lalu kukeraskan suaraku agar kakek mendengar. Tak berapa lama diterimanya uang pemberianku. Namun sang kakek tetap diam tak bersuara. Terus kuperhatikan kakek tua itu. Dari tadi ia tetap mengusap-usap kedua matanya dengan tangannya. Aku sangat sedih, karena ketika matanya diusap, ia berharap bisa melihat selembar uang yang baru kuberikan. Tapi...ah...percuma, kakek itu hanya geleng kepala. Lantas iapun melipat uang tadi dan memasukkan kedalam lipatan celananya.

Mungkinkah kedua mata kakek itu sudah tidak bisa melihat, sehingga harus berulangkali diusapnya? Atau mungkinkah ia tidak bisa berkata, sehingga tak bisa menjawab sapaanku? Sungguh nelangsa hatiku ketika melihat seorang tua renta harus menjadi pengemis jalanan dan berjuang melawan kerasnya hidup.

Aku hanya bisa berdoa, semoga kakek itu tidak terpaksa mengemis di jalanan karena dibuang oleh keluarganya. Semoga saat ini sang kakek mendapat pertolongan dan tidak mendapatkan siksaan dari preman jalanan karena fisiknya yang makin lemah. Sungguh aku tak tega melihat pengemis tua yang hidup menggelandang........
Categories:
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...