28 Mei 2014

Posted by Sri Wahyuni on 1:45 PM 2 comments

Cinta membuat segalanya terasa indah. Cinta juga membuat seseorang belajar tentang arti kehidupan. Bahkan dengan cinta, semua beban hidup seolah sirna dan berganti dengan keikhlasan. Cinta manusia memang penuh jeda. Ada kalanya rasa itu hilang karena suatu sebab. Pertengkaran, ketidakcocokan dan sebagainya, membuat rasa cinta itu sempat memudar. Hanya cinta Allah-lah yang abadi, yang tak mungkin terhapus oleh apapun.

Meski demikian, cinta ibu membuatku mampu bertahan dalam situasi apapun. Ibu adalah sosok yang menginspirasiku. Beliau banyak memberiku teladan tentang kehidupan yang sesungguhnya. Memang setiap ibu selalu memberikan cinta yang tulus kepada keluarganya. Namun bagiku cinta ibu sungguh luar biasa. Beliau sanggup menyemai cinta di kehidupannya.

Ibu hanyalah orang desa yang berjuang demi cinta. Cinta ibu pada kehidupannya, cinta ibu pada orang tua dan saudara-saudaranya, cinta ibu pada keluarga kecilnya atau cinta ibu pada orang-orang disekitarnya, membuat beliau selalu bekerja keras merajut mimpi-mimpinya.

Dulu, ketika gadis, ibu berjuang demi cintanya pada orang tua dan saudaranya. Beliau rela bekerja demi menghidupi ibu dan keempat saudaranya, sepeninggal ayahnya.  Tanpa kenal lelah, beliau tak putus-putusnya berharap kehidupannya menjadi lebih baik. Dan memang benar adanya, berkat kerja keras ibu, keempat saudaranya mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Ternyata…perjuangan hidup itu tak hanya sampai disitu. Ibarat sebuah rumah bertingkat, ibu akhirnya berada pada tingkat kedua, dimana beliau menghadapi babak baru dalam perjuangannya. Lelaki yang pernah membantu keluarga ibu, akhirnya meminta ibu untuk menjadi pendamping hidupnya setelah istrinya meninggal. Berat sebenarnya memutuskan hal itu. Namun seolah tak ada pilihan lain, akhirnya ibu menerima tawaran lelaki itu demi balas budi yang belum sempat beliau berikan.

Dari pernikahan ibu dengan lelaki itu lahirlah dua anak perempuan, yaitu aku dan adikku. Lelaki itu tak lain adalah ayahku. Aku bahagia kala itu karena ayah dan ibu memberikan cinta yang tulus kepada anak-anaknya. Sayang, ayah pergi terlalu cepat. Beliau meninggal karena penyakit komplikasi yang dideritanya. Semenjak itu, ibu bersumpah tak akan mengejar cinta lelaki lain. Cintanya bahkan hanya terpatri pada satu lelaki yaitu ayah.

Demi cinta ibu pada ayah, beliau kembali berjuang demi anak-anaknya. Yah….ibu sempat jatuh bangun, bahkan demi pendidikan anak-anaknya, ibu sampai mengontrakkan beberapa ruangan di rumah kami. Beberapa kamar kosong juga dikoskan untuk anak-anak sekolah. Beliau juga membuka warung kecil dan berjualan keliling.

Bukan hanya itu. Warisan peninggalan almarhumah nenekpun juga ikut terjual demi pendidikan anak-anaknya. Bagi ibu, pendidikan anak adalah prioritas hidupnya. Meski dulu aku hampir mengalami DO (dropout) saat kuliah karena tak ada biaya, namun tak ada putus asa dalam sejarah perjuangan hidup ibu. Beliau mencoba mencari celah dengan berbisnis minyak tanah dan jual beli sepeda. Alhamdulillah, berkat usaha itu, aku tak jadi DO dari bangku kuliah.

Hmm….mengingat masa itu, dan mengingat gaung cinta yang menggema dalam diri ibu, aku jadi terpacu kala itu. Ketidakcukupan biaya kuliah membuatku bangkit mencari kesempatan yang ada. Ketika kuliah aku masih bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari usahaku mengerjakan makalah, artikel dan skripsi teman-temanku. Disamping itu, berkat prestasi akademikku, aku masih bisa merasakan beasiswa Supersemar selama setahun. Bahkan setelahnya, aku diterima menjadi instruktur pada sebuah lembaga pendidikan komputer.

Ya….ibu memang sosok yang penuh cinta. Demi cintanya padaku, ibu bahkan mencarikan jodoh untukku. Jodoh itu kini telah sepuluh tahun menemaniku berjuang meraih hidup yang penuh makna.  Aku bersyukur, karena lelaki yang sebelumnya tak pernah kukenal ternyata memberiku banyak hal, terutama tentang arti mencintai yang sesungguhnya. Bersamanya, aku jadi tahu bahwa hidup itu harus diperjuangkan dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.

Cinta ibu pula yang membuatku ingin terus berjuang demi keluarga kecilku. Aku tak menyesal dengan keputusanku menjadi ibu rumah tangga, karena aku ingin memberikan yang terbaik untuk suami dan anakku, yang selama ini telah memberikan cinta yang tulus padaku. Bagiku, bahagia itu manakala aku melihat senyum merekah diantara mereka. Senyatanya bukan kemewahan yang kami cari, namun tinggal serumah dan hidup seadanya yang dilingkupi rasa cinta, itulah dambaan kami.

Sayang….cinta ibu kepada orang sekelilingnya membuat beliau harus kembali berjuang. Demi rasa belas kasihan kepada temannya, ibu bahkan rela menggadaikan skep jandanya. Mungkin orang beranggapan ibulah yang salah. Namun rasa belas kasihan atas musibah yang menimpa temannya, membuat ibu lebih memandang masalah secara manusiawi. Kini, teman ibu yang berjanji akan mencicil hutang ibu ternyata terlilit hutang ditempat lain. Ibulah yang akhirnya merelakan gaji bulanannya dipotong demi temannya. Dan beliau tak tahu apakah nanti uangnya akan kembali atau lenyap tak berbekas. Ibu hanya bisa pasrah sembari berusaha mencari kesibukan lain.

Yah….ibu adalah sosok tangguh yang berjuang atas nama cinta. Berkat ibulah aku jadi berusaha mengupayakan hidupku. Bahwa sesungguhnya menjadi ibu adalah tugas yang teramat berat sepanjang hidupku. Meski demikian, dengan segala keterbatasanku, aku akan terus berjuang demi cintaku pada keluarga kecilku, seperti cinta ibu yang berjalan mengikuti ritme kehidupan. Dan aku akan membuktikan bahwa menjadi ibu rumah tangga bukan sebuah kesalahan.

Dengan menjadi ibu rumah tangga, aku jadi tahu banyak hal tentang tumbuh kembang anakku. Aku juga punya banyak kesempatan untuk melayani suamiku. Satu hal lagi, menjadi ibu rumah tangga bukan hanya diam di rumah atau menyelesaikan pekerjaan dapurnya. Ada banyak hal yang bisa dikerjakan di rumah dan menghasilkan, yaitu dengan menulis dan melek internet demi menambah wawasan. Semuanya tentu berasal dari cinta, cintalah yang membuat ibu rumah tangga sepertiku mencintai profesiku.


Categories:
Reaksi:

2 komentar:

  1. Setuju banget dengan kalimat, "ibu rumah tangga bukan hanya diam di rumah atau menyelesaikan pekerjaan dapurnya. Ada banyak hal yang bisa dikerjakan di rumah dan menghasilkan, yaitu dengan menulis dan melek internet demi menambah wawasan."

    Bener banget Mbak. Menjadi ibu rumah tangga di rumah itu tantangannya sangat besar. Yaitu mendidik dan membesarkan anak yang merupakan amanahNya. Apalagi di zaman sekarang tantangan semakin besar. Tanpa didikan dan cinta ibu, seorang anak tak mungkin bisa menjadi manusia baik seperti harapan.

    Sukses lombanya, Mbak. ^^

    BalasHapus
  2. bicara cinta, mungkin cinta ibu adalah cinta tertinggi yang pernah ada untuk umat manusia (tanpa melibatkan agama dan Tuhan), karena cinta seorang ibu itu begitu tulus dan sangat besar. kesalahan sebesar apa pun yang dilakukan anak biasanya akan dimaafkan sang ibu, hati beliau sangat lembut dan mudah tersentuh. Sering terjadi seorang ibu yang terluka hatinya karena sikap sang anak dengan mudahnya memaafkan begitu si anak menangis meminta maaf. love you mom

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...