8 April 2014

Posted by Sri Wahyuni on 3:46 AM 3 comments
Inilah yang membuatku kaget. Hari Sabtu tiba-tiba anakku menyodori selembar kertas jadwal UTS (Ujian Tengah Semester). Ujian itu akan dilaksanakan selama seminggu mulai hari Senin. Sebenarnya kapanpun dilaksanakan ujian, siswa harus siap, karena tugas siswa sejak jaman sekolah berdiri adalah belajar. Namun rasanya ini seperti sekolah main-main.
sumber ada disini

Di saat semua sekolah di Indonesia melaksanakan UTS serentak, sang KepSek tak mengikuti aturan, dengan meniadakan UTS. Alasannya anak-anak kelas 6 akan melaksanakan ujian pemantapan. Banyak orang tua murid menggerutu. Tidak ada UTS sama halnya anak-anak harus berjuang mencari nilai saat ulangan harian atau pengumpulan tugas. Dan di khawatirkan nilai akhir semester nanti akan hancur, karena tak ada UTS sebagai latihan ujian.

Begitu para orang tua menerima keputusan sepihak dari KepSek, tiba-tiba beredarlah kabar pelaksanaan UTS yang mendadak. Jangankan orang tua murid, guru sekolahpun tak semuanya tahu. Ada beberapa yang sedang ijin cuti hari raya, sehingga saat mendapatkan kabar UTS merekapun kaget.

Belajar dari sekelumit pengalaman ini, seorang pimpinan entah itu Kepsek atau direktur atau pimpinan lainnya harus pandai menghandle bawahan dan organisasinya. Ketika “ia” ditunjuk sebagai atasan sebisa mungkin melaksanakan aturan yang telah ditetapkan pusat. Kalau dari pusat mengharuskan “A” maka laksanakan “A”, jangan menentangnya kalau tidak ingin mendapat sangsi.

Demikian juga saat mengambil keputusan. Memang yang disebut pimpinan adalah orang nomor satu di suatu organisasi atau instansi. Namun ia tidak bekerja sendiri. Ada wakil dan staff yang membantu pekerjaannya. Sebisa mungkin setiap keputusan yang akan diambil haruslah di musyawarahkan terlebih dahulu dengan bawahan, agar mereka tahu dan bisa menerima keputusan tersebut.

Sempat terdengar janji caleg yang bila dirinya terpilih akan menggratiskan biaya sekolah, tidak ada lagi anak-anak usia sekolah yang tidak bersekolah. Yah…mungkin itu sah-sah saja. Sekolah gratis akan membuat rakyat bahagia. Namun ada hal yang perlu dikaji yaitu SDM, dalam hal ini tenaga pendidik. Apakah dengan gratisnya biaya pendidikan berarti tenaga pendidik itu dengan suka rela menularkan ilmunya semaksimal mungkin?

Pernah mendengar slentingan ibu-ibu…..”sekolah negeri kok minta lebih, gurunya gak bakalan menerangkan dengan gamblang, kalau mau muridnya pinter ya bayar, sana sekolah di sekolah yang mahal bayarannya…..”
Akupun pernah mengalami nasib yang serupa dengan anakku. Kebetulan anakku bersekolah di sekolah negeri. Saat itu ia tidak bisa menjawab LKSnya karena jawaban tidak ada di bacaan sebelumnya. Lantas ia bertanya pada gurunya. Sang gurupun dengan ketus menjawab, “kalau mau tahu jawabannya berarti LKSmu gak usah dinilai.” Ya sudah akhirnya beberapa jawaban yang tidak diketahui anakku akhirnya dikosongi, dan tahu saudara berapa nilai anakku? “50”….nilai yang memalukan.

Itulah mengapa sekolah gratis sering dianggap sebagai sekolah main-main, tidak maju, tidak bermutu dan tidak berkualitas. Kalau dulu orang tua bangga anaknya dapat diterima di sekolah negeri, karena jaman dulu hanya anak-anak yang pandailah yang mampu bersekolah di sekolah negeri. Sekarang, sekolah negeri ibaratkan sekolah murahan yang gurunya hanya numpang ngajar. Seolah predikat “pahlawan tanpa tanda jasa” itu lenyap. Sungguh sangat ironi.

Andai para tenaga pendidik sadar akan dedikasinya untuk mencerdaskan bangsa, mungkin mereka akan bekerja tanpa pamrih membuat anak didiknya pandai. Meski saat ini uang adalah prioritas untuk menyejahterakan keluarga, namun janganlah mengabaikan tugas utama sebagai pendidik.

Semoga kedepan, dengan semakin banyaknya sekolah gratis, tak ada lagi anak yang putus sekolah. Bahkan mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas berkat didikan gurunya di sekolah. Mari kita sama-sama mengembalikan citra sekolah negeri yang saat ini mungkin makin suram karena tersaingi oleh sekolah-sekolah swasta.
Categories:
Reaksi:

3 komentar:

  1. semoga makin baik ya dan anak-anak bisa lebih pintar

    BalasHapus
  2. Sebenarnya nggak semua guru sekolah negeri begitu sih. Walau ya saya juga pernah mengalami saat di SMP & SMA, masih ada jam kosong & saya nggak paham apa yang dijelaskan guru. Ada juga yang lebih murah ilmu terhadap anak yang les di rumahnya. Sekarang banyak guru sudah dapat sertifikasi, gaji dobel-dobel. Semoga diiringi dengan peningkatan kualitas pengajaran.

    BalasHapus
  3. Wah :D mendadak ujian :D kalo aku sih ga pernah bingung masalah gtuan :3 hehe

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...