11 Februari 2014

Posted by Sri Wahyuni on 12:37 PM 12 comments
Amazing!!! Itulah perasaanku manakala pertama kali mendengar Fawwaaz menyebutkan kata “mmaam”…. Subhanallah, sungguh tak percaya atas nikmat Allah yang luar biasa ini. Aku yang dulunya pendiam, tak berani berteriak, tiba-tiba melonjak kegirangan saat bibir mungil itu mengeluarkan sepatah kata yang sangat menyentuh hati.

Aku masih ingat penantian panjang untuk mendapatkan Fawwaaz. Dan satu setengah tahun bukanlah waktu yang singkat untuk berjuang, agar di dalam rahimku tumbuh sebuah janin. Meski toh akhirnya untuk membuat janin itu bersemayam dalam rahimku bukan perkara mudah. Aku harus berjuang dan mengorbankan segalanya demi hadirnya Fawwaaz di kehidupan kami. Dari dokter  satu ke dokter lainnya, obat-obatan dari yang medis sampai tradisional, dukun pijat, embak jamu sampai kata-kata orang, semua kuturuti. Bahkan tubuhku seolah telah menjadi bahan percobaan karena dijejali berbagai obat.

Dan……ternyata hanya kekuatan Allah-lah yang mampu membuatku tersenyum. Hadirnya Fawwaaz dalam kehidupan kami adalah jawaban atas doa panjang yang telah kupanjatkan kepada –Nya. Yah, menikah telah membuatku berani melakukan apa saja demi mendapatkan ridho Allah. Berkat doa itu aku mendapat amanah dari-Nya untuk membesarkan dan mendidik Fawwaaz menjadi anak yang berakhlak mulia.


Sembilan bulan mengandung membuatku gelisah, tak sabar menanti saatnya dipanggil ibu. Dan ketika saat itu tiba, seolah aku tak percaya. Ternyata dari dalam rahimku lahir seorang bayi mungil yang sehat, putih dan bersih.  Namun aku jadi grogi, takut memegang tubuh mungil yang masih lemas. Berkat pertolongan bidan kesehatan yang telah kuanggap saudara, akhirnya tumbuh keberanian dalam diriku untuk menggendong Fawwaaz dan memandikannya.

Aku selalu memperhatikan perkembangan Fawwaaz, setiap moment indah tentangnya selalu kuabadikan dalam sebuah foto. Indah rasanya menjadi ibu. Dan ketika suara yang samar-samar itu memanggil “mama”, aku seolah kembali tak percaya, amazing!!!

Panggilan “mama” tentunya bukan keluar sendiri dari bibir seorang bayi yang baru belajar berkata-kata, melainkan ia telah mendapat rangsangan sebelumnya, sehingga timbul keberanian untuk meniru bunyi rangsangan itu. “Mama”, itu yang selalu kuajarkan kepada Fawwaaz. Terus terang sejak Fawwaaz lahir, aku dan suami sempat dibuat pusing menentukan panggilan apa yang cocok untuk kami.

Di Papua banyak anak memanggil ibunya dengan “mamak”, sementara ayahnya di panggil “bapak”. Masak ikut seperti itu? Lantas kami memilih lagi panggilan yang lain. Kalau ayah-bunda, rasanya belum cocok kami dipanggil seperti itu. Apalagi umi-aby, hehehe….belum pantas juga, kami masih miskin iman. Ayah-ibu? Itu sudah biasa yang kami lakukan saat memanggil orang tua di kampung. Mama-papa? Duh sebenarnya panggilan ini terlalu berat, mengingat panggilan yang demikian cocoknya untuk orang kota, sementara kami berasal dari kampung. Tapi melihat kebiasaan tetangga di asrama yang lebih nyaman di panggil mama-papa, akhirnya kami berani mencobanya.

Awalnya terasa kikuk saat membiasakan Fawwaaz untuk memanggil mama-papa, apalagi mertuaku sempat menertawainya.
“Wong orang kampung kok gaya, pakai nyuruh anaknya manggil mama-papa segala……”

Namun kami tetap kekeh pada pendirian dan berani mencoba yang baru. Memang keberanian harus tumbuh dalam diri kita. Berani berbuat, berani berkata, akan mengurangi semua beban yang mengendap dalam tubuh kita. Coba kita lihat keberanian seorang bayi yang baru bisa berteriak dan mengucapkan sebuah kata, itulah keberanian yang tulus dan suci, tanpa ditutup-tutupi.

Aku mempunyai keberanian yang luar biasa setelah mempunyai anak. Aku berani berbuat demi kebaikan, dan aku berani berteriak manakala Fawwaaz melakukan perbuatan yang agak membahayakan. Itu semua kulakukan demi kebaikan Fawwaaz. Demikian juga dengan Fawwaaz di masa bayi, dia berani mengucapkan kata walau hanya “mmaaam” itu karena dia mendapat rangsangan dan ingin menunjukkan kalau dia juga mampu.

Berani berbuat, berani berkata, akan membuat hidup terasa lebih indah tanpa beban. Mari saatnya melakukan perubahan!!!

Bicara Lantang


Categories:
Reaksi:

12 komentar:

  1. Allhamdulilla, senang ya mbak pertama kali bisa bicara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak senang sekali saya sampai tak percaya

      Hapus
  2. Ya ...
    berani bertindak mana kala aksi yang dilakukan sudah membahayakan dirinya ...
    demi keselamatan si anak juga ya Bu

    Salam saya

    (11/2 : 16)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Om, Btw kok ada tulisan (11/2 : 16) apa itu artinya saya mendapat urutan ke 16 yang dikunjungi pada tanggal itu? Wah hebat Om NH sampai bikin no urut BW nya hehehe

      Hapus
  3. Selamat atas kehadiran Fawwaz, saya pernah di Sorong satu bulan lebih, rasanya kangen ingin berkunjung ke sana lagi. salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih pak, wah saya malah belum pernah ke Sorong hanya transit aja hehehe
      Salam kenal kembali

      Hapus
  4. Anak saya diajari bapak ibu tapi selalu manggil ayah sama mamah. Mungkin lebih mudah mengucapkannya ya hehe

    BalasHapus
  5. Ya kadang anak suka ngikut lingkungan juga. Kalau disekitar kita pada manggil mamah, pastinya dia ikut seperti itu juga, anak saya juga seperti itu

    BalasHapus
  6. Pasti rasanya tak akan pernah terlupakan ya mbak, peluk cium untuk Fawwas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagai kenangan yang selalu membekas mbak
      terima kasih sudah berkunjung

      Hapus
  7. Kebanyakan kalimat pertama yang diucapkan bayi adalah Mama. Entah itu sudah pertanda bahwa surga ditelapak kaki Ibu atau kalimat yg paling gampang, Mama :)

    BalasHapus
  8. senang sekali pastinya ya bun mendengar anak kita pertama kali mengucapkan kata..sehat terus ya nak

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...