21 Februari 2014

Posted by Sri Wahyuni on 1:34 PM 9 comments


Hidup di dunia memang penuh warna. Demikian dengan hati manusia. Tak semua manusia berhati sama. Justru perbedaan itu yang membuat kehidupan ini seperti rasanya permen nano-nano. Halah….to the point aja kale…….
 Floating Hearts Text
Ya semuanya berawal dari sebuah pertemanan. Ini cerita tentang suamiku. Sebenarnya tak ingin aku menulis disini, tapi ternyata dengan menulis membuat hati dan pikiranku jadi plong, karena aku juga merasa geram. Namun bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Tak mungkin waktu akan kembali mengulang sebuah cerita yang sama.

 Pertemanan itu akan terasa indah apabila saling terbuka. Ini yang tak pernah terjadi pada suamiku dan temannya. Jabatan suamiku membuat makin banyak orang menjalin kerjasama dengannya. Awalnya “just say hello”, lama-lama jadi akrab.  Aku tak menaruh curiga pada seseorang yang hampir setahun ini dekat dengan suamiku. Ia bukan hanya partner bisnis yang baik, tetapi sudah dianggap seperti saudara sendiri oleh suamiku.

Setiap datang ke rumah ia selalu membawa oleh-oleh untuk anakku. Bahkan tak jarang suamiku diberi sebuah amplop yang berisi uang.  Namun ditolaknya mentah-mentah, karena ia tak tahu apa tujuannya memberi amplop. Tetapi malah ditanggapinya dengan sebuah permusuhan. Akhirnya demi menjalin persahabatan, diterimanya setiap pemberian dari temannya. Apapun bentuknya.

Persahabatan itu hampir setahun berlangsung. Nyaris sempurna, tak ada tanda-tanda yang mencurigakan.  Antara suamiku dan temannya saling membantu, disaat suamiku butuh dana, temannya meminjaminya, demikian sebaliknya. Sering teman suamiku meminjam dana yang jumlahnya lumayan besar, namun pada akhirnya dikembalikan. Inilah yang membuat suamiku percaya, bahwa ia seorang bos besar.

Namun akhir-akhir ini teman suamiku memperlihatkan gelagatnya yang aneh. Setiap hari Sabtu ia selalu menelpon suamiku agar dipinjami sejumlah dana untuk membayar pegawainya di sebuah proyek. Akupun berusaha memberi pengertian kepada suamiku. Rasanya tidak masuk akal bila seorang bos kehabisan dana. Harusnya dia mempunyai anggaran khusus untuk menggaji pegawainya pada hari yang ditentukan. 

Bahkan ia seolah menyembunyikan diri, entah kemana rimbanya. Ketika ditelpon tak pernah mau mengangkatnya. Namun pada saat di sms ada hal yang penting, barulah dia mau menelpon balik. Sedang keberadaannya pun seolah tak jelas. Kadang dia bilang sedang di Jakarta menyelesaikan urusan A, kadang juga di Bandung lagi mengontrol pekerjaan B.  Tentang benar atau tidaknya perkataannya yang jelas saat ini teman suamiku seolah tak bisa dilacak keberadaannya.


Mengetahui keadaan yang tak menguntungkan seperti itu masih saja suamiku menaruh iba pada temannya. Beberapa kali ia menelpon suamiku meminta bantuan untuk dipinjami sejumlah dana dengan berbagai alasan. Ujung-ujungnya dipinjami juga. Suamiku selalu bilang “kasihan dia”. Jujur aku dan suamiku tak tahu latar belakang keluarganya. Yang kutahu setiap datang ia selalu membawa oleh-oleh.

Karena rasa iba itulah akhirnya uang suamiku di bawa kabur. Kalau disuruh ngitung rasanya bikin kepala nyut-nyutan, jumlahnya amat banyak, bagi seorang ibu rumah tangga yang berusaha menghemat pengeluaran agar cukup sebulan.

Dan yang bikin kepala tambah pening, teman suamiku meninggalkan sebuah sepeda motor. Usut punya usut sepeda motor itu dibeli dari sebuah leasing, yang sudah hampir 7 bulan tidak dibayar cicilannya. Hal ini kuketahui saat aku dibonceng suamiku mengendarai sepeda motor itu. Di tengah jalan tiba-tiba ada dua orang yang menghadangku. Bodinya tinggi besar, wajahnya seram, mirip bodyguard. Duh mimpi apa aku sebelumnya, hingga harus berhadapan dengan monster yang menakutkan itu. Dan dari cerita mereka, motor yang kami tunggangi itu adalah motor yang mereka cari.

Bahkan tiga hari kemudian, datanglah seseorang berperawakan besar dan botak ke rumah, bermaksud mengambil motor itu. Namun suamiku masih saja menaruh iba pada temannya, dan mempertahankan motor itu. Sementara sang temanpun setiap di telpon dengan nada dan alasan yang tak jelas. Demi rasa iba itu akhirnya suamiku kembali kehilangan sekian puluh juta uang untuk menebus motor dari leasing. Belum lagi sang bodyguard yang meminta bayaran. Duh…..

Akhirnya ketika suamiku bertemu dengan seseorang yang kenal betuh dengan temannya, terkuaklah sebuah misteri yang selama ini tertutup kabut. Namun dari sebuah pengalaman yang telah terjadi ini, aku dapat memetik sebuah pelajaran bahwa berteman dengan siapapun itu sah-sah saja, namun jangan sampai menyangkut masalah pinjam meminjam uang. Kalau membutuhkan bantuan tenaga, atau jasa, semua bisa diatur. Tetapi kalau urusan pinjam meminjam uang? Tak ada yang tahu apakah seseorang yang dipinjami dapat dipercaya. Kalau jumlahnya sedikit, diikhlaskan-pun tak jadi soal, tetapi kalau jumlahnya banyak? Apa juga diikhlaskan?

Tapi terus terang aku salut dengan suamiku. Uang puluhan juta raib, tak ada sesal  juga tak ada rasa dongkol berkecamuk pada dirinya. Dia hanya diam, sembari mengucap “biarkan saja, toh semua itu ada balasannya. Allah yang mengatur semua ini, biarlah Allah yang membalasnya.” Bagaimana sodara-sodara? Terus terang aku geram, karena belanja bulananku jadi terpotong sekian persen gara-gara kejadian ini. 

Yah..memang sebuah pelajaran berharga, ketika niat baik tak dibalas dengan kebaikan, anggaplah semua ini sebagai musibah, agar kita diberi kekuatan, ketabahan dan keikhlasan dalam menjalani hidup yang penuh warna ini. Sesungguhnya Allah Maha Tahu.
Categories:
Reaksi:

9 komentar:

  1. Yang sabar ya Mak Sri Wahyuni. Benar sekali niat baik tidak selalu dibalas dengan kebaikan. Yang penting kita ikhlas.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak terima kasih....memang hidup di dunia ini dibutuhkan stok sabar yang berlipat-lipat hehehe

      Hapus
  2. sebenarnya, ketika awal dia sering datang dengan memberi uang tanpa alasan jelas, disitulah sudah harus waspada Mak. pengalaman saya, orang yang sudah punya itikad tidak baik sejak awal, biasanya akan berlaku pura-poura dermawan tanpa alasan yang jelas. setelah kita merasa terhutang budi tanpa sengaja, baru lah dia menebarkan ranjaunya. tapi apapun itu, ini namanya cobaan. semoga sabar dan bisa diambil hikmahnya

    BalasHapus
  3. wow puluhan juta raib :|
    yang sabar ya Mak, semoga nanti ada balasan yang lebih indah :)

    BalasHapus
  4. Wah segitunya, Mbak. Sabar ya. Semoga uang yang keluar digantikan Allah dengan yang lebih besar. Dan si teman suaminya disadarkan dan bisa menyelesaikan masalahnya dengan keluarga, Mak. :)

    BalasHapus
  5. Insha Allah ada gantinya, baca doa ini mbak inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun

    ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي ، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَ

    BalasHapus
  6. mudah2an Allah ganti uang puluhan juta yg raib itu dengan rezeki yg jauh lebih baik ya mak Yuni, aamiin. memang harus hati2 dalam memilih teman dekat mak, termasuk dalam hal pinjam-meminjam uang..

    BalasHapus
  7. Sabar ya Mbak... Memang itulah kehidupan kadangkala tak terduga, niat baik kita pun diselewengkan...

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...