13 Februari 2014

Posted by Sri Wahyuni on 2:54 PM 20 comments

Awalnya saya bukan penggemar makanan berbahan dasar daging. Setiap makan daging, entah itu daging sapi, kambing, ayam atau ikan sekalipun, saya selalu membayangkan bentuk fisik hewan dan kebiasaannya. Sampai-sampai saya keduluan mual sebelum menyantap olahan daging itu. Apalagi daging bebek? Wih, tidak ada dalam sejarah saya untuk menggemari daging itu. Melihat bentuk aslinya saja saya sudah lari terbirit-birit, karena trauma pernah dikejar bebek kala kecil dulu.

sumber gambar ada disini

Ternyata memang benar adanya, bahwa roda kehidupan itu selalu berputar. Begitupun dengan makanan kesukaan. Kalau dulu saya wanti-wanti tidak akan menyentuh menu olahan daging, setelah menikah saya berada dalam lingkungan yang berbanding terbalik dengan tempat saya dibesarkan.

Saya benar-benar merasakan perubahan saat tinggal di Papua. Keadaan alam Papua yang dikelilingi laut dan hutan, dimanfaatkan oleh penduduknya untuk memelihara ikan dan beternak. Belum lagi hasil laut yang melimpah ruah, membuat kebiasaan masyarakat Papua lebih menggemari makanan berbahan dasar daging. Disinilah awal mula saya mulai suka makan daging.

Ditambah dengan hobi suami saya yang suka masak dan kuliner, saya jadi terpacu ingin melebihi kemampuannya. Awalnya dari sebuah rantang susun yang tergeletak diatas meja. Usut punya usut itu adalah hadiah lomba memasak berbahan dasar daging bebek. Kalau dilihat dari rasanya suami saya memang jago masak, namun karena dia tidak memperhatikan segi kebersihannya, seperti bumbu yang tidak dicuci, akhirnya juri memutuskan suami saya dapat juara 2.
lalapan bebek yang hot, kalau tidak pedas bukan lalapan namanya

Semenjak itu saya jadi hobi makan daging bebek. Selain rasanya gurih, daging ini akan menghasilkan cita rasa yang nikmat bila diolah dengan benar. Memang dagingnya terkesan amis dan keras, namun ada beberapa trik untuk menghilangkan aroma amis dan menjadikannya empuk dan lembut. Tadinya saya menggunakan panci presto, tetapi gara-gara presto saya rusak setelah dipinjam tetangga, saya menggunakan cara lain.

Awalnya daging bebek dicuci bersih, lalu dipotong sesuai selera. Setelah itu dilumuri garam dan direndam dalam perasan jeruk nipis kurang lebih selama 15 – 30 menit, untuk menghilangkan aroma amisnya. Kemudian daging bebek siap direbus dengan air dalam panci. Jangan lupa tambahkan sereh yang telah dikeprek, kunyit yang telah dihaluskan, serta daun salam. Oh ya untuk membuat daging empuk jangan lupa lumuri dagingnya dengan soda kue, dan masukkan sebuah sendok stainless steel dalam panci, agar cepat empuk. Rebus kurang lebih 1 jam.

Beberapa kali saya mencoba membuat menu olahan daging bebek. Dari yang digoreng, dibakar, dibumbu kecap sampai bumbu woku. Masakan woku sebenarnya masakan khas Manado yang berbahan dasar ikan, dan pedasnya minta ampun. Namun saya mengganti ikan dengan daging bebek, ternyata tak kalah nikmatnya. Alhasil masing-masing dari kami punya selera  sendiri  tentang menu olahan daging ini. Saya lebih suka yang digoreng karena rasanya gurih, sedangkan anak saya lebih suka di bumbu kecap karena manis rasanya, sementara suami saya suka dengan bumbu woku.

komplit bin lengkap menu di RestoBebekJudes, wiih bikin ngeces aja,
info selengkapnya ada disini
Dan ketika mendengar nama bebek Judes, saya penasaran ingin mengunjungi restonya dan membuktikan apakah pedasnya memang juara?. Sayang di Denpasar belum ada, coba kalau ada pasti kunjungi restonya. Apalagi menu andalan yang ditawarkan “bebek Perawan” membuat saya makin penasaran seperti apa sih bebek Perawan itu? Tapi memang hebat banget Mas Adhi Widianto ini, bisa menciptakan resto yang digemari banyak orang.

Pendiri bebek judes diambil disini

Testimoni bebek judes diambil disini

Untuk mengobati kekecewaan hati saya, akhirnya saya berkuliner ria mengunjungi penjual olahan bebek. Mulai dari warung di pinggir jalan sampai resto di tengah kota. Namun hanya beberapa yang saya kunjungi mengingat lalu lintas di Denpasar yang ramai dan macet. Dari beberapa yang saya kunjungi ada sebuah warung yang membuat saya penasaran,  “Bebek Gephuk”. Saya coba ke tempat itu ternyata yang dinamakan bebek gephuk itu bebek goreng dengan ditaburi parutan lengkuas yang telah digoreng. Makannya tetap pakai cocolan sambal.
penampakan "bebek gephuk" seperti ini   
uha-uha pedesnya sambal bebek bakar......tuh bebeknya besar banget
bebek bakar dengan sambal yang bikin bibir tambah tebal,
sayang gambar bebeknya cuma separo hiks

Dan ini nih yang benar-benar membuat bibir saya tambah tebal, bebek bakar dengan sambal nendang banget. Saking pedasnya sampai saya tak bisa tersenyum saat dijepret. Namun saya akui dari pengalaman  makan bebek, rasanya masih penasaran dengan resto bebek Judes. Dilihat dari aneka menu yang komplit ditambah harganya yang lebih murah dari Denpasar, membuat saya ingin membuktikan kejudesannya. Semoga suatu saat resto bebek Judes hadir di Denpasar menjawab rasa penasaran saya.

info dan gambar menu didapat disini



Categories:
Reaksi:

20 komentar:

  1. Jadi lapar mbak, liat gambar-gambarnya.. :)

    BalasHapus
  2. dr yg gak sukaa, sampe suka bangeet yah mbak sama olahan daging :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener, dulu saya gak doyan tapi gak tahu kenapa setelah menikah jadi suka banget hehehe

      Hapus
  3. terima kasih untuk partisipasinya, sudah saya catat, ya :)

    BalasHapus
  4. saya juga suka bebek mak.....sering juga masak sendiri...bebek bumbu pedas...

    BalasHapus
    Balasan
    1. bebek emang enak ya mak kalau diolah jadi masakan.....

      Hapus
  5. Lagi nunggu waktu untuk bisa makan bebek ini. Semoga sukses kontesnya, mba :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya berharap semoga nanti ada di denpasar, terima kasih ya mbak

      Hapus
  6. kalau pintar ngolahnya, daging bebek jadi lebih enak dari daging ayam ya mak..lebih gurihh ^^
    salam kenal mak Yuni

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya betul mak, terima kasih sudah berkunjung
      Salam kenal kembali

      Hapus
  7. Aduh, jadi lapar... Jadi kepengen makan bebek... (yg udh dimasak tentunya) :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayuk mak makan olahan bebek biar bisa bunyi kwek kwek kwek hahaha......

      Hapus
  8. makan nya menikmatiiiii bangeeddddd hehehe

    BalasHapus
  9. Mbak Yuni khusus bgt makannya, jd ikutan ngiler nih, pdhl aku ga suka bebek lo.. Kl skr jd pgn ya?? :-P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan khusyuk mbak Muna tapi kepedesen sampe gak bisa senyum hehehe, eh Btw uenak lho rasanya daging bebek tuh

      Hapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...