28 Desember 2013

Posted by Sri Wahyuni on 5:46 AM 1 comment

 sumber gambar ada di sini

Tahi lalat di atas alisnya membuatku jatuh hati padanya.  Lelaki seperti dialah yang lama kuimpikan.

Sembilan tahun yang lalu aku resmi dijodohkan.  Sebuah perjodohan yang kuanggap sebagai hidayah dari Allah. Dan bernostalgia ke masa itu mengingatkanku pada sebuah tahi lalat di atas alis lelaki itu.

Hihihi…….terasa lucu mengingatnya.  Pertemuan yang amat singkat, belum sempat berhahak-hihik tiba-tiba aku harus mengikuti ritual pertunangan. Anehnya tak sedikitpun ada perlawanan dari kami.  Aku dan lelaki itu ibarat kisah Datuk Maringgih dan Siti Nurbaya, yang menurut apa kata orang tua.

Hari Sabtu itu adalah hari dimana aku akan ditunangkan dengan mas Pram, nama lelaki itu.  Mas Pram menungguku di Terminal Arjosari, Malang.  Kurang lebih dua jam perjalananku dari Terminal Purabaya, Surabaya menuju Terminal Arjosari, Malang dengan bus kota.

Sesampai di Terminal Arjosari, aku bingung.  Aku belum hafal betul wajah mas Pram.  Satu persatu kuamati deretan orang-orang yang duduk di kursi, namun tak juga kutemukan sosok wajah dalam rekaanku.  Sampai akhirnya….

“Hei….sini.”

Seorang lelaki bertubuh tegap menghampiriku.  Lantas ia pun menggandengku mengajak naik ke bus kota jurusan Blitar.  Kami duduk di bangku nomor tiga dari depan.  Dan tak lama kemudian bus kota itu berjalan menuju kota tempat kami akan bertunangan.
Sungguh aneh, selama perjalanan kami tenggelam dalam diam.

“Woooeee…..mengapa terasa kelu lidah ini”, pekikku dalam hati.

Hanya tangan mas Pram yang terus memegang tanganku.  Keringat dingin mulai membasahi pergelangan tanganku. Membayangkan yang akan terjadi nanti.
Dua jam berlalu dan sampailah kami di Terminal Blitar.  Mas Pram mengajakku ke sebuah tempat penitipan sepeda.  Rupanya dari rumah ia membawa motor dan menitipkannya ke tempat itu.

Lama kumenunggu mas Pram. Sampai akhirnya…olala….ia mengeluarkan sebuah vespa butut yang catnya pun sudah memudar.
Berulangkali mas Pram berusaha menghidupkan vespa itu, rupanya mesinnya bermasalah.   

Lantas dikeluarkannya semua peralatan dari dalam motor butut itu.  Lama ia mengutak-atiknya sampai akhirnya..treet..tet..tet…tet….vespa itu nyala lagi.
Mas Pram tidak berani mematikan mesinnya takut tidak nyala lagi.  Lekas dikemasinya peralatannya dan mengajakku segera naik di belakangnya.

Aku terperanga melihat ada sesuatu berwarna hitam di atas alis mas Pram.  Seolah sok tahu aku segera mengeluarkan tissue dari dalam tasku.

“Sebentar mas aku bersihkan dulu, ada angus di wajah mas….”

“Angus apa?” Mas Pram penasaran.

Lalu aku pun segera mengusap warna hitam itu, anehnya tak juga hilang dari atas alisnya, sampai mas Pram pun merasa kesakitan karena gosokanku terlalu kuat.

“Huh…ini bukan angus, tapi tahi lalat!” Pekik mas Pram.

Hahaha…..aku pun tersipu malu, gara-gara sok tahu tahi lalat pun kukira angus.
Sejak itu aku selalu mengamati wajah mas Pram.  Sebuah tanda yang aneh, tahi lalat besar di atas alisnya. Dan tanda itulah yang membuatku semakin jatuh hati padanya setelah pertunangan itu.

Kini kami telah Sembilan tahun bersama.  Tahi lalat itu akan menjadi kenangan abadi sepanjang perjalanan hidup kami.  Tak jarang tawa renyah kami tiba-tiba lepas manakala mengingat kisah itu.

Ya…..tahi lalat di atas alis lelaki yang kini menjadi suamiku telah merekatkan cinta kami.  Cinta yang akhirnya hadir dalam sebuah perjodohan. Syukur itu selalu kupanjatkan pada-Nya, bahwa perjodohan itu adalah suratan takdir, dan dialah lelaki impianku.  Semoga kami langgeng selamanya.

Categories:
Reaksi:

1 komentar:

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...