21 Oktober 2013

Posted by Sri Wahyuni on 4:39 PM 1 comment
Malam itu kurasakan mencekam.  Hawa dingin dari AC yang menyala dikamarku, membuat tubuhku menggigil.  Kucoba menekan tombol off pada remote AC itu, rupanya Fawaz malah terbangun dari tidurnya. Tubuh tambunnya seolah membuat ia tidak bisa lepas dari hawa dingin yang terpancar dari AC itu. Ahh......

Entah mengapa, meski jarum jam telah menunjukkan pukul 12 malam, mataku sulit terpejam. Padahal hari-hari biasanya dengan mudahnya mataku terpejam.  Aha.....itu karena ada suami tercinta yang menemani.  Dan malam itu, suamiku mendapat giliran piket hingga esok pagi.  Ah, sungguh penakut! Hanya ditinggal sehari semalam saja sudah bingung, apalagi kalau sampai sebulan, menjerit mungkin.....



Kupandangai langit-langit, hanya pijaran lampu yang memantulkan sinarnya ke segala penjuru.  Tak ada cicak. Bosan rasanya berdiam diri di kasur dengan mata yang terus membelalak.  Lantas, kucoba mendekati meja komputer, bermaksud membuka blogku.  Sampai di entri baru.....satu, dua, tiga....ah pikiranku buntu, jari-jari tanganku seolah tak mau digerakkan.  Aku hanya terpasung menatap layar monitor yang tak berubah.

Tiba-tiba aku seperti mendengar jejak kaki yang berjalan mengendap-endap. Deg....itulah perasaanku.  Takut dan penasaran telah bercampur. Ingin membuka tirai jendela kamarku, namun aku tak punya cukup keberanian. Selalu saja kata "andai" yang muncul dibenakku.  Andai itu hantu, ohh seramnya, andai itu maling, ohh menakutkan.

Lalu kurapalkan doa mengusir hawa takut ditubuhku.  Ternyata, lima menit kemudian, suara kedua kembali datang.  Kali ini suaranya lebih kencang.  Aku seperti terperanjat. Namun aku tak berani bebuat apa-apa.  Dan aku hanya bisa diam sembari memegangi jantungku yang berdecak kencang.  Tak henti-hentinya kubacakan doa sebisaku.  Tetapi entahlah, bunyi itu  masih saja kudengar. Dan sejurus kemudian, perlahan suara itu tiba-tiba hilang.  Selebihnya suasana malam itu kembali sunyi.

Akupun lelah bercengkerama dengan perasaan takutku.  Disaat takut itu hilang, rasa kantuklah yang membuatku lupa segalanya. Aku terlelap tiba-tiba, dan kulalui malam itu tanpa sebentuk mimpi yang berarti.  Tiba-tiba adzan Shubuh membangunkanku.  Alhamdulillah....aku masih selamat, itu pekikku.

Ketika terang datang, kuamati sekeliling rumahku. Ohh...ternyata, semalam ada yang berusaha menyatroni rumahku. Duh.....geram rasanya melihat halaman rumahku ditinggali jejak yang membuatku harus bekerja keras membersihkannya.

Jejak pertama adalah sapi liar yang masuk halaman rumah dan meninggalkan kotorannya. Dan jejak kedua adalah anjing yang berhasil mencuri sandal sebelah milik suamiku. Padahal sandal itu amat jauh asalnya. Suamiku membelinya ketika kami masih tinggal di Papua. Yang tambah membuatku geram, rupanya anjing itu meninggalkan jejak kakinya di lantai teras rumahku. Duh, resmilah pagi itu aku membersihkan halaman rumahku seorang diri.

Yah...akupun sadar, ternyata Allah Maha Adil.  Manusia diciptakan berpasang-pasangan.  Ada lelaki, dan ada perempuan, mereka saling melengkapi dan membutuhkan.  Ketika disatukan dalam ikatan pernikahan, saat itulah mereka harus meninggalkan egonya dan menyatukan segala rasa demi keharmonisan rumah tangga.

Aku paham betul, tanpa suami, aku bukan berarti apa-apa.  Itulah sebabnya aku sangat menghormati suamiku.  Bersamanya aku bisa menjalani pernak-pernik kehidupan ini dengan suka cita.  Walau kadang ada badai yang menghadang, namun bersamanya, akupun bisa tegar menghadapinya.


Categories:
Reaksi:

1 komentar:

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...