4 September 2013

Posted by Sri Wahyuni on 1:41 PM 1 comment


sumber: bioners.wordpress.com


Andai pendidikan di Indonesia merata, mungkin tidak ada lagi masyarakat yang terbelakang.  Sayangnya pemerintah kurang jeli dalam menguak sisi kehidupan.  Program pendidikan yang digembar-gemborkan agaknya hanya dinikmati oleh kalangan yang mampu menjangkaunya.  


Sementara bagi mereka, kaum pinggiran sama sekali tak terendus.  Ibarat setali tiga uang, dinas terkait tak menganggap keberadaan mereka, sementara mereka pun seolah enggan berinteraksi dengan dunia luar.  Yang ada hanyalah “pasrah” dengan keadaan yang seperti itu.

Jauh di luar itu, kaum yang notabene bisa mengecap bangku pendidikan pun juga dihadapkan pada berbagai problema.  Sekolah negeri yang katanya mendapat sumbangan dari pemerintah, yang masuknya gratis, malah dicap sebagai sekolah yang tidak berkompeten.  Pada akhirnya orang tua yang memasukkan anaknya ke sekolah negeri dianggap hanya mencari gratisan.  Ironisnya sebagian orang menganggapnya sebagai sekolah kaum duafa.  Hingga situasi ini dimanfaatkan oleh sekolah swasta.

Saat ini banyak berdiri sekolah swasta yang kualitasnya jauh lebih bagus dibanding sekolah negeri.  Dan orang tua yang jeli dengan pendidikan anak pun berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah berbayar tersebut.  Sungguh tragis melihat kondisi semacam ini, kualitas sekolah negeri harus tenggelam akibat semakin menjamurnya sekolah swasta yang lebih lengkap fasilitasnya.

Ironisnya, kondisi seperti ini tak serta merta ditanggapi dengan sebuah perubahan oleh tenaga pendidik.  Kemana larinya dedikasi seorang pahlawan tanpa tanda jasa? 

Sebuah pemandangan yang saya lihat sungguh membuat ngilu dan ingin menelan ludah.  Sekolah negeri, tempat anak-anak menimba ilmu, tetapi mengapa hari-harinya hanya dipenuhi dengan jam istirahat.  Jam efektif hanya berlangsung selama 2 jam, selebihnya waktu istirahat.  Sementara di saat menjelang ulangan, sang guru mewajibkan anak didiknya untuk mengikuti pelajaran tambahan di sekolah.  Nyaris seperti sekolah terbuka, yang belajarnya murni dilakukan di rumah.   

Belum lagi pihak sekolah yang tidak mempertimbangkan kapasitas kelas.  Setiap murid baru selalu diterima, padahal jumlah murid sudah melebihi kapasitas ruang kelas.  Yang ada hanyalah kegaduhan, guru dan murid kurang efektif dalam berinteraksi.

Wajar saja bila ada sebuah sekolah yang predikatnya di bawah rata-rata.  Orang tua menyekolahkan anaknya dengan tujuan supaya anaknya pandai, sementara sang pendidik hanya beranggapan yang penting dia sudah bekerja.  Andai saja sang pendidik mau berjiwa besar, rela berkorban demi rasa kemanusiaannya, saya yakin dia tidak akan bekerja berdasarkan gaji. Dia akan lebih memperhatikan peserta didiknya.   

Dan andai saja dinas pendidikan pada instansi terkait rela bekerja keras mengadakan inspeksi ke sekolah-sekolah dan mengadakan pendataan secara merata, saya yakin tidak akan ada sekolah yang pada kelas tertentu kapasitas kelasnya melebihi jumlah yang ditetapkan.

Semoga kedepan, mereka-mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan bisa membangkitkan nama sekolah negeri yang saat ini makin tenggelam.  Rasa kemanusiaan dan kepedulian akan pendidikan mudah-mudahan semakin membara di hati mereka, sehingga tidak ada lagi kebodohan di negeri ini.
Categories:
Reaksi:

1 komentar:

  1. Perlu kerja sama dari banyak pihak untuk meningkatkan mutu pendidikan kita.

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...