4 September 2013

Posted by Sri Wahyuni on 1:25 PM 1 comment


sumber: jakartacity.olx.co.id

Siang itu amat terik. Panasnya membuat trotoar di jalanan tercabik-cabik. Sementara hembusan angin kencang kian memporak-porandakan pepohonan, hingga satu persatu daun-daun itu jatuh berguguran, berserakan di trotoar.

Dewa angin makin gencar melemparkan serangan mautnya, namun semuanya dapat ditumbangkan dewa matahari. Masing-masing mempunyai benteng pertahanan yang sama kuat. Sayang, kekuatan mereka tiba-tiba tumbang manakala gumpalan awan hitam bergerombol, berjalan perlahan berarakan tak ubahnya segerombolan anak itik yang pulang ke kandangnya menjelang petang. Pergulatan dewa angin dan dewa matahari terhenti.



Kabut itu datang menyapu keceriaan sang matahari. Seketika itu juga siang berubah menjadi kelam. Butiran-butiran lembut siap ditumpahkan ke bumi. Tak berapa lama, guyuran air hujan membasahi perkampungan yang mulai sepi ditinggal penghuninya ke kota.

Ya..kampung itu benar-benar sepi. Sesepi hati Ana saat ini. Keceriaan itu sudah lama menghilang, berganti kabut yang kini bersemayam di hati Ana. Hari-harinya dilewati dengan mengurung diri di dalam kamar. Sudah dua hari Ana pulang dari kota menengok Anto, calon tunangannya yang menjadi seorang tentara.

Namun dua hari pula ia sengaja mengunci dirinya di dalam kamar. Tiada lagi gelak tawa canda Ana, tiada pula lantunan tembang manis yang diperdengarkan oleh suara merdu Ana. Entah apa yang telah terjadi pada Ana. Tak seorangpun tahu, termasuk Emak dan Mira, adiknya.

Emak sedih memikirkan tingkah laku Ana yang aneh semenjak kepulangannya dari kota. Dua hari mengunci diri di dalam kamar, tidak makan dan minum. Keluar kamar hanya untuk keperluan ke kamar mandi, setelah itu kembali lagi ke kamar dan tak seorangpun diperbolehkan mengusik dirinya.

Bahkan saat Emak menyapapun, ”An, makan dulu.......”
”Iya Mak, sebentar.” Jabawan itulah yang terus dilontarkan Ana manakala Emak mengetuk pintu kamarnya dan menawari sesuatu.

Emak semakin bingung. Kenapa sikap Ana berubah setelah menengok Anto? Apakah Anto penyebabnya? Tiba-tiba berbagai kata ”jangan-jangan” bercokol di pikiran Emak.

”Jangan-jangan Ana berantem dengan Anto.”
“Jangan-jangan Ana di aniaya Anto.”
“Jangan-jangan Ana di perkosa Anto.”
“Jangan-jangan Ana di hamili Anto.”.............atau......
“Jangan-jangan Ana malah diputus Anto.”

Ah........kenapa pertanyaan-pertanyaan itu terus mengejar dan menghantui pikiran Emak?
Sorot mata Emak menatap tajam langit-langit yang sudah mulai keropos dimakan jaman. Batinnya tengah bergemuruh dihunjam tanya yang tak juga ada jawabnya. Tiba-tiba saja terlintas rasa penyesalan. Menyesal karena membiarkan anak gadisnya menengok calon tunangannya seorang diri.

”Andai saja waktu itu aku bisa mencegahnya, pasti Ana tidak akan seperti ini”, batinnya lirih.

”Andai Anto telah merenggut kegadisan Ana, apa yang bisa kupertanggungjawabkan di hadapan-Nya? Aku seorang ibu yang gagal, gagal menjaga kesucian anak gadisku sendiri. Oh, Tuhan ampuni aku….”, tangis Emak dalam hati.

******************
Ana berasal dari keluarga miskin. Ayahnya seorang kuli bangunan yang telah meninggal tiga tahun silam akibat kecelakaan. Semenjak itu Emak mati-matian kerja keras menjadi seorang pemetik cabe di sawah milik juragan Amir demi menghidupi dirinya dan Mira adiknya. Meski tidak diperhitungkan di kampungnya,

Ana tidak patah semangat. Ia terus berjuang untuk mengangkat derajat keluarganya.
Sejak kecil Ana sudah terbiasa hidup susah dan pekerja keras. Setamat dari sekolah menengah pertama di kampungnya, ia bertekad mencari pekerjaan di kota dan melanjutkan sekolahnya. Usahanya pun berhasil.

Beruntunglah Bu Sholeha, teman Emak di kampung yang sukses di kota membawa Ana ke kota untuk dijadikan baby sister dan disekolahkan disana.

Kini ia telah mempunyai ijasah SMA. Meski tidak bisa melanjutkan kuliah namun ia bangga bisa membiayai sekolahnya sendiri tanpa mengusik ketenangan Emak. Pekerjaannya di kota ia tinggalkan demi menemani Emak yang terlihat semakin tua di makan usia.

Di kota lah Ana mengenal sosok Anto. Setelah dua bulan berkenalan, panah asmara itu akhirnya menancap di hati masing-masing. Guratan-guratan cinta dibalut dengan indahnya kasih sayang diantara mereka akhirnya bersemi, menyatukan dua hati yang berbeda.

Sejak saat itu mereka berikrar untuk sehidup semati. Mulailah hari-hari Ana dipenuhi oleh busur-busur cinta yang siap dipanahkan Anto. Sadar akan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan mereka bertekad untuk mempererat hubungan mereka. Sekali waktu Ana membawa Anto ke kampung, memperkenalkannya kepada Emak dan Mira.

Demikian halnya dengan Anto. Anto yang lama hidup di kota tidak canggung memperkenalkan Ana yang notabene anak kampung kepada keluarganya. Ternyata keluarga kedua belah pihak sama-sama memberikan lampu hijau pada hubungan asmara mereka. Emak terlihat bangga pada Ana yang mempunyai calon tunangan seorang tentara.

Setidaknya keluarganya akan diperhitungkan di kampung, terlebih oleh orang-orang kaya yang hanya memandang sebelah mata padanya. Dan keluarga merekalah yang menyarankan bertunangan terlebih dahulu sebelum menikah, itupun di-amin-i oleh Ana dan Anto.

------------------------------------------

Hari pertunangan itu telah ditentukan oleh keluarga Ana dan Anto. Mereka mengambil kesepakatan kalau pertunangan itu akan dilaksanakan setelah Anto menyelesaikan pendidikannya selama kurang lebih dua bulan.

Dua bulan itu telah berlalu, Anto telah menyelesaikan pendidikannya. Selama selang waktu itu hubungan mereka terlihat baik. Ana sering menelpon Anto di tempat pendidikan, pun Anto juga sering mengirim surat kepada Ana. Hari-hari Ana kelihatan berbunga-bunga manakala ia menerima surat dari Anto dan menceritakan perihal surat itu kepada Emak. Sampai akhirnya, dua hari yang lalu setelah Ana pulang dari kota perangainya berubah drastis.

”Apa gerangan yang tengah terjadi pada Ana?”, lagi-lagi Emak bertanya di dalam hati. Sekali lagi pintu kamar itu di ketuk. Kali ini Emak tidak akan membiarkan anaknya terus mengurung diri di dalam kamar. Ia harus tahu apa yang telah menimpa Ana hingga ia berbuat seperti itu.

”An, buka pintunya nak, Emak mau bicara!”
Tidak ada sahutan di dalam sana. Sekali lagi Emak memohon kepada Ana.

”An, ayo nak tolong buka pintunya, Emak mau bicara sama kamu. Emak ingin tahu apa yang terjadi padamu. Ayolah nak buka pintunya, siapa tahu Emak bisa membantu kesulitanmu.”

Pintu itu sedikit terbuka, dari dalam menyembul wajah Ana yang terlihat kuyu dan pucat. Tumpahan air mata masih membekas di mukanya. Tubuhnya terlihat lemas karena dua hari tidak makan.

Sejenak Emak mengamati sosok yang ada dihadapannya. Ada rasa pedih yang menyengat ulu hatinya. Tiba-tiba sepasang -emak dan anak- ini berpelukan erat sambil menangis sejadi-jadinya, seolah menumpahkan seluruh isi hati mereka yang sempat tertahan. Sampai akhirnya tangis itu reda.

”Apa yang tengah menimpamu hingga kamu seperti ini, nak? Ayolah ceritakan pada Emak biar Emak tahu duduk persoalannya. Terus terang Emak sedih melihat anak Emak seperti ini, karena Emak tidak tahu harus berbuat apa. Semoga pikiran-pikiran jelek yang menghantui Emak akhir-akhir ini tidak menimpamu nak”, pinta Emak dengan nada memelas.

Lagi-lagi Ana hanya menangis, tak satupun kata sempat terucap di bibir Ana. Rasanya susah untuk menghentikan isak tangis Ana, dia enggan untuk mengungkapkan dengan kata-kata.

”Ayolah nak ceritakan sama Emak, agar Emak tahu apa gerangan yang tengah menimpamu”, pinta Emak sekali lagi.

Dengan sekuat tenaga Ana berusaha menghentikan tangisnya, ia mulai mengatur napasnya yang dari tadi tidak beraturan.

”Hatiku sakit Mak, teriris seperti disayat sembilu. Mas Anto Mak, dia tega berbuat sekejam itu”, Ana terdiam, tidak sanggup berkata-kata lagi........

Deg...jantung Emak rasanya mau copot, ia tidak ingin rekaannya selama ini benar, tapi kenapa Ana memotong kalimatnya, apa yang terjadi? Emak komat-kamit dalam hati berharap sesuatu yang menimpa Ana masih diambang batas yang wajar. Lalu....

”Mas Anto memutuskan hubungan kami Mak”, tangis itu meledak lagi......
”Syukur-syukur”, gumam Emak dalam hati.
“Kenapa Anto tega memutuskan hubungan kaliah secara sepihak, apa dia sudah punya pilihan lain. Atau dia memandang rendah padamu sama seperti anak-anak Juragan Amir hingga dia menganggapmu tidak pantas bersanding dengannya, mana janjinya dulu?”, cerocos Emak.

Sejenak Ana terdiam. Dia berusaha mengatur napasnya yang sejak tadi berjalan tidak normal.

”Dia dijebak Mak. Waktu mengikuti pendidikan di Bandung, dia tinggal di rumah seniornya. Mas Anto tidak mengira kalau dibalik sikap baik seniornya tersimpan maksud lain. Mas Anto disuruh mempertanggungjawabkan perbuatan yang sama sekali tidak pernah dilakukannya. Dia dituduh memperkosa anak gadisnya. Mas Anto bingung, dia harus dihadapkan pada dua pilihan, aku atau karir yang sudah bertahun-tahun dirintisnya dari bawah. Demi karir dia rela meninggalkanku Mak”, embun itu masih menetes meski tak sederas sebelumnya.

”Terus, kenapa sampai kamu mengurung diri di dalam kamar, tidak makan tidak minum? Apa sih untungnya An, masih banyak lelaki lain yang lebih dari Anto. Siapa tahu Anto bukan jodohmu. Mak sampai bingung, kirain kamu kenapa-napa, nggak taunya diputus to!”, ledek Emak.

Ana tersipu malu. Bener juga apa kata Emak, wong cuma diputus cinta aja sampai segitunya, dunia serasa mau kiamat.

”Alah Emak ini kayak nggak pernah muda aja, sakit Mak rasanya. Coba kalau Emak yang ngerasain sendiri, pasti nggak doyan makan, minum, apalagi diajak ngomong, maunya air mata ini mengalir terus.”

”Ngapain aja kamu di kota? Sama Anto diapain?”, selidik Emak.

”Emak ini kayak detektif aja, detail banget nanyanya. Ini dia Mak yang bikin Ana kesel banget. Udah diputusin sama mas Anto, e…saudara perempuannya itu malah memaki-maki aku Mak, sakit banget. Mas Anto tidak tahu, waktu kuceritain, e...malah mas Anto nggak percaya. Dia bilang saudaranya itu alim, lemah lembut nggak mungkin kalau dari mulutnya keluar kata-kata sekasar itu. “

“Satu lagi Mak, waktu Ana kerumah orang tuanya mas Anto, mereka sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, semuanya diserahkan ke mas Anto. Duh, tambah sakit dua kali Mak”, mata Ana melotot sambil kedua tangannya mengepal.

”Tapi, aku masih cinta sama mas Anto Mak?”, tangis itu meledak lagi.
Emak kasihan melihat Ana. Dia prihatin dengan nasib yang menimpa anak gadisnya. Lekas dipeluknya tubuh Ana.

“Sudahlah An, mungkin Tuhan akan mengirimkan jodoh yang lebih baik dari Anto. Biarlah Anto menjadi milik orang lain. Terimalah kenyataan ini dengan hati lapang dan hiasilah hidupmu dengan hal-hal yang nyata, bukan mimpi. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Siapa tahu esok atau lusa jodohmu akan datang tiba-tiba.....”, yakin Emak sambil mengelus rambut panjang Ana.

Ana manggut-manggut pertanda ia setuju dengan ucapan Emak.
”Hapus air matamu, tunjukkan kalau dirimu tegar menghadapi segala cobaan seperti tegarnya batu karang yang tak mudah terkikis hembusan gelombang pasang. Ayo makan sana, Emak sudah masakin pepes ikan tongkol kesukaanmu. Jangan bilang kalau kamu tidak selera, demi Emak makanlah!”

Ana menuruti perintah Emak, ia berjalan mengikuti langkah Emak.
Sejenak langkah Emak terhenti, rupanya ada satu lagi pertanyaan yang terlupa.
”Eh, An, ngomong-ngomong kamu belum diapa-apain sama Anto kan? Kamu masih perawan?”

”Ealah Emak, masak ragu sama anak sendiri. Jelek-jelek begini Ana kan jebolan pondok pesantren. Jangan dikira mentang-mentang pernah tinggal di kota tabiat Ana sudah berubah Mak. Masih orisinil. Nggak percaya, lihat aja sendiri.” Gelak tawa itu kembali terdengar dari mulut Ana yang sudah lama tak terdengarkan. Emak pun ikut bangga mendengar penuturan Ana sambil manggut-manggut pertanda setuju dengan ucapan anaknya.

***************************

Setelah kejadian itu Ana mengisi hari-harinya dengan berbagai kegiatan. Mesin jahit peninggalan almarhum ayahnya ia gunakan untuk mempraktekkan ilmunya yang didapat dari kota. Hasilnya cukup lumayan meski belum serapi penjahit profesional. Sekali waktu ia ikut Emak memetik cabe di sawah milik juragan Amir.

Sedikit demi sedikit rasa sakit karena diputus cinta semakin menghilang, meski sejujurnya ia masih amat mencintai Anto dan tidak dapat melupakan kejadian kala di kota itu.

Ana tidak ingin terlihat rapuh, ia berusaha menatap hari esok dengan senyum, meski senyum itu masih sedikit terasa getir saat menatap sosok Anto yang terpampang di dinding kamarnya. Lekas diambilnya gambar itu dan disimpan rapat-rapat dalam laci meja riasnya. Ia ingin menutup lembaran kelam yang ditorehkan Anto.

Sampai suatu hari Bu Sholeha datang ke kampung menemui Emak, dia membawa kabar baik bagi Ana.

”Kedatanganku kemari tidak lain hanyalah menanyakan perihal Ana. Andi, adikku yang nomor tiga kemarin baru tiba dari berlayar. Dulu waktu Ana ikut aku, Andi juga masih tinggal bersamaku, jadi mereka saling kenal baik. Karena itulah Andi menyuruh aku kesini untuk meminta Ana jadi istrinya. Kamu setuju nggak Las -(panggilan Emak)-?”

Hati Emak berbunga-bunga. Pucuk dicinta ulam tiba. “Semoga ini benar-benar jodoh Ana”, batin Emak girang.

“Aku sih setuju-setuju saja, Ha, tergantung Ana. Nanti kusampaikan berita baik ini padanya, pasti dia juga setuju. Kebetulan Ana masih ikut kursus menyulam di kampung sebelah jadi pulangnya agak sore”, jawab Emak.

”Baiklah Las, kutunggu khabar selanjutnya, kalau sudah ada jawaban dari Ana lekas kasihtahu aku. Aku akan mempersiapkan pesta besar-besaran buat hari jadi anak kita.”

Sepulang Bu Sholeha, Emak bernyanyi sendiri sambil menari-nari kecil pertanda hatinya senang. Mira pun ikut geleng-geleng dibuatnya. Ia berharap siang segera berganti sore dan lekas disampaikannya khabar baik ini kepada Ana, karena Emak ingin menghilangkan luka hati anaknya yang masih sedikit menganga.

------------------------------------------------------------------------------

“An, tadi bu Sholeha ke rumah………….”

“Mau ngapain Mak, mau ngajak Ana ke kota lagi? Tidak deh Mak, Ana masih trauma dengan kota, terutama dengan kejadian itu Mak!”, potong Ana.

”Tunggu dulu, Mak belum selesai ngomong, emang kamu mau diajak ke kota....”

”Nah, benar kan, sekali lagi maaf Mak, Ana tidak bisa”, sergah Ana.

”Kamu ini nerocos aja, Mak belum selesai ngomong jangan di potong. Maksud kedatangan bu Sholeha kesini mau mengajak ke kota lagi sekaligus melamar kamu untuk jadi istrinya Andi”, jelas Emak.

”Hah, yang bener Mak, Andi yang ganteng itu, masak sih Mak Ana nggak percaya.” Sontak Ana memukuli wajahnya sendiri, ia takut kalau-kalau apa yang didengarnya cuma khabar angin. Mata Ana melotot, telinganya di korek-korek meski tidak ada kotoran didalamnya.

”Mak nggak bohong kan?”, tanya Ana sekali lagi seolah nggak percaya dengan berita yang disampaikan Emak.

”Kalau bohong ngapain Mak sampaikan. Justru ini khabar beneran yang dibawa bu Sholeha dan dia pengen tahu jawaban secepatnya. Katanya kalau kalian sama-sama setuju bu Sholeha akan mempersiapkan pesta besar-besaran di kota buat ngerayain hari jadi kalian. Gimana?”, tegas Emak.

”Setuju-setuju Mak”, hati Ana berbunga-bunga. Akhirnya inilah jodoh yang dikirimkan-Nya untukku, manusia hanya bisa berusaha dan berencana tapi Tuhan jualah yang menentukan, batin Ana bersorak.

”Tapi An, sekali lagi Mak mau tanya sama kamu. Kamu benar-benar masih perawan kan? Jangan sampai nantinya Andi keliru memilihmu”, tanya Emak penasaran.

”Ceile Mak, berapa kali sih Ana harus ngomong sama Emak, apa perlu pembuktian yang akurat. Ini nih Mak, dengar baik-baik, buka mata, buka telinga, sampai saat ini Ana masih P-E-R-A-W-A-N.............”
Ana berlari sambil bersiul menjauhi Emak@@@@@@@@@
Categories:
Reaksi:

1 komentar:

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...