5 September 2013

Posted by Sri Wahyuni on 12:37 PM 5 comments


Fawwaaz

Suatu hari anak saya yang masih duduk di TK bertanya, “Ma, kenapa sih mama tidak kerja?  Coba kalau mama kerja, pasti punya uang banyak, bisa beliin Fawaz (panggilan anak saya) mainan, bisa punya mobil dan rumah bagus.”  Terhenyak saya mendengar pertanyaan Fawaz.  Pertanyaan yang seharusnya tidak diucapkan oleh anak seusia dia. 

Namun saya pun menyadari bahwa anak seusia dia memang masih polos dan kritis, dia cenderung ingin mempunyai sesuatu yang sama dengan temannya.  Apa yang dilihat dari temannya, dia pun juga ingin seperti mereka.  Bagi saya itu adalah hal yang wajar, dan saya pun tak pernah marah atas pertanyaan itu.
             
          Dengan hati-hati dan sedikit penjelasan saya berusaha menjawab pertanyaan Fawaz.  “Fawaz…. coba Fawaz bayangkan, seandainya mama kerja, berangkat pagi pulang sore, bahkan bisa jadi malam baru pulang, sementara papa juga sibuk di kantor, lalu siapa yang njagain Fawaz? Siapa yang antar jemput Fawaz ke sekolah atau siapa yang menemani Fawaz bobok siang?”  Sepertinya Fawaz pun sudah tahu jawabannya.

Tanpa pikir panjang, lantas dia menjawab.  “Kan kalau mama kerja uangnya jadi banyak, tidak usah minta papa lagi.  Bisa dong mama menggaji pembantu buat njagain Fawaz, dan untuk ke sekolah mama bisa sewa tukang ojek.  Jadi mama tidak perlu repot-repot nemani Fawaz lagi, cukup kerja di kantor, cari uang banyak.  Sudah deh.”  Kembali saya dikejutkan dengan jawaban Fawaz yang sungguh luar biasa. 

Hampir saya kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaannya yang bertubi-tubi. Hanya satu kata yang ada di benak saya, “heran”.  Tiba-tiba Fawaz mengernyitkan dahinya.  “Hayo mama gak bisa jawab ya?”  Lantas dengan perlahan saya coba jawab pertanyaan Fawaz sambil sesekali membelai rambutnya.  “Fawaz sayang, coba kamu ingat-ingat.  Pernahkah Fawaz mama titip ke tetangga sewaktu mama ada kegiatan di kantor papa?”  Fawaz mengangguk pertanda ia meng-iyakan.  “Lalu pernahkah Fawaz mengalami hal-hal yang membuat Fawaz menangis atau ketakutan?”  Dengan sedikit mengernyitkan dahinya, Fawaz pun menjawab, “pernah ma, sewaktu dititip sama bu Tejo, Fawaz dijatuhin dari kursi sampai benjol, lalu ketika di titip sama bu Basuki, Fawaz dicubit sampai paha Fawaz merah.  Fawaz takut ma.” 

Saya kembali heran dibuatnya, ternyata Fawaz bukan hanya kritis, tetapi ingatannya sangat tajam.  Padahal kejadian itu sudah cukup lama, ketika Fawaz belum bersekolah, tapi dia sanggup menceritakan kronologis kejadian itu dengan lengkap.
             
        Akhirnya, saya menjelaskan bahwa menggaji pembantu itu sebenarnya bagus, tetapi belum tentu ia sesuai dengan kemauan kita.  Bahkan tanpa sepengetahuan tuan rumah pembantu itu bisa berbuat semaunya, seperti menghukum anak dan mengatakan seolah-olah sang anaklah yang salah.  Padahal dia sendiri bekerjanya tidak sesuai harapan. 

Demikian juga dengan tukang ojek.  Tidak semua tukang ojek mau bekerja dengan tulus walaupun sudah dibayar.  Apalagi saat ini penculikan marak terjadi.  Bisa-bisa si anak di jual ke orang lain atau di sandera dengan dalih si tukang ojek lagi butuh biaya untuk pengobatan keluarganya yang sakit, misalnya, dan orang tua dimintai uang untuk menebusnya. 

Satu persatu saya jelaskan kepada Fawaz dengan sabar.  Fawaz pun bisa mengerti dengan penjelasan saya.  Sampai akhirnya dia urungkan keinginannya yang meminta saya untuk bekerja.  “Ya, sudah ma, lebih baik mama di rumah saja, ngurusin Fawaz, nemanin Fawaz ya, Fawaz takut.  Biar papa saja yang bekerja.”  Sambil tersenyum saya pun mengangguk, meng-iyakan ucapan Fawaz barusan.
             
          Meski diantara kami sudah tidak mempermasalahkan pekerjaan, namun sesekali saya melihat Fawaz murung.  Apalagi bila ia mendapati temannya di antar ke sekolah oleh mamanya yang berseragam dinas sambil mengendarai mobil, sementara saya mengantarnya hanya menggunakan sepeda motor butut dan berpakaian seadanya.  Kadang kasihan bila melihat anak sekecil Fawaz harus sedih dan murung, sementara saya sebagai orang tuanya tidak bisa membuatnya tersenyum bahagia. 

Lantas, apakah saya akan kembali menuruti permintaan Fawaz, menjadi seorang pekerja kantoran dan mempercayakan pengasuhan Fawaz pada pembantu atau tukang ojek?  Lama saya berpikir.  Sampai masalah ini saya bawa ke tempat tidur, saya diskusikan dengan suami.  Hasilnya tetap pada keputusan semula.  Bahwa saya tidak akan bekerja, itu sudah menjadi komitmen kami sejak awal Fawaz lahir. 

Apalagi menyerahkan pengasuhan Fawaz kepada pembantu, itu sangat tidak mungkin.  Bukannya saya mencurigai kerja pembantu, tapi sepertinya untuk mengasuh anak lebih baik orang tua sendiri yang menangani tanpa harus ada campur tangan pembantu. 
           
         Lalu saya kembali berpikir bagaimana caranya membuat Fawaz ceria dan tetap bangga pada mamanya meskipun mamanya hanya seorang Ibu Rumah Tangga.  Lama saya mereka-reka dan mencari jawabnya.  Sampai akhirnya saya temukan solusinya, yang menurut saya bisa mengembalikan keceriaan Fawaz.  “Membuatkan makanan special untuk Fawaz, makanan buatan saya sendiri, yang lain dan beda dengan makanan pada umumnya”.  Lalu makanan itu akan saya bawakan sebagai bekal Fawaz ke sekolah. Ya, ini ide yang bagus, menurut saya. 

Akhirnya, saya pergi ke toko buku, mencari inspirasi macam-macam makanan untuk anak.  Ternyata banyak sekali kreasi makanan untuk anak.  Kemudian dari buku-buku masakan yang sempat saya baca di toko buku, beberapa saya beli, saya menemukan ide-ide kreatif untuk membuat makanan special untuk Fawaz. 

Keesokan harinya saya praktekkan resep buatan saya untuk bekal ke sekolah Fawaz.  Ternyata responnya sangat bagus.  Memang anak-anak yang masih duduk di bangku TK diwajibkan membawa bekal ke sekolah.  Selama ini saya membawakan bekal Fawaz hanya nasi kuning atau mie goreng yang saya beli dari warung sebelah rumah.  Lama-lama bosen juga kalau tiap hari anak dibawain bekal yang sama. 

Hari pertama Fawaz membawa bekal yang beda dari biasanya, ternyata membuat Fawaz sedikit ceria.  Dari kejauhan dia berusaha mengejar saya sambil teriak-teriak, “mama-mama makanan buatan mama banyak yang muji lho, bahkan ada yang mau dibuatin makanan seperti Fawaz punya oleh mamanya.”  “Oya??” saya pun girang mendengar Fawaz berbicara. 

Lalu kembali Fawaz menepuk bahu saya sambil naik di belakang motor, “ma besok buatin lagi ya, kata teman Fawaz masakan mama enak.  Fawaz mau promosiin ke bu guru juga biar mama banyak orderan.”  “Haah…” mata saya sempat terbelalak, kembali saya terpukau dengan ucapan Fawaz. 

Demi Allah saya tidak pernah mengajari Fawaz untuk berkata seperti itu.  Subhanallah ternyata Fawaz adalah anak yang cerdas, dia sudah bisa memandang dari berbagai sudut, sampai bisnis pun ia utarakan. 
            
       Ternyata ucapan Fawaz dan keceriaannya menambah semangat saya untuk terus berkreasi dengan menciptakan makanan untuk bekal ke sekolahnya.  Tiap hari saya buatkan menu yang berbeda, dengan tujuan supaya Fawaz tidak bosan.  Ternyata memang benar.  Fawaz semakin ceria dari hari ke hari. 

Teman-temannya banyak yang tertarik dengan bekal yang di bawa Fawaz, yang selalu berganti-ganti setiap hari.  Bahkan gurunya pun sempat menyicipi bekal Fawaz dan memberikan pujian kalau masakan mamanya enak.  Dari situ akhirnya beberapa ibu dari teman Fawaz yang menanyakan resep masakan saya.  Sungguh senang rasanya hati saya. 

Apalagi pada saat menjemput Fawaz saya selalu dikerumuni ibu-ibu yang menanyakan resep masakan saya.  Fawaz sempat bilang, “mama seperti selebritis saja, banyak penggemar!”  Bahkan sesekali saya juga kebanjiran order.  Untuk acara tertentu ada beberapa ibu dari teman Fawaz atau bahkan gurunya di sekolah memesan kue atau masakan saya. 

Inilah yang membuat Fawaz tambah senang.  Dia melihat saya bekerja keras di rumah membuat kue dan masakan pesanan ibu-ibu, lalu dia menemani saya mengantar pesanan itu.  Dan sebagai hasilnya saya mendapat uang dari usaha saya, yang tadinya hanya berniat untuk membahagiakan Fawaz, tiba-tiba menjadi sebuah bisnis kecil-kecilan yang menghasilkan. 

Rasa syukur saya panjatkan kepada Allah atas limpahan rahmat yang tak terkira ini.  Sungguh luar biasa, ternyata nasib manusia itu ada di tangan Allah tetapi manusia itu sendiri yang harus berani mengubahnya.  Walaupun saya hanya seorang ibu rumah tangga, tetapi membuat bangga keluarga itu adalah hal yang bukan main menyenangkan.  Dan menjadi orang kebanggaan keluarga bukan hanya dilihat dari apakah kita seorang wanita karier atau bukan. 

Dari rumahpun kita bisa membuat orang-orang terdekat kita bangga.  Banyak contohnya, bukan hanya masakan.  Jadi walau hanya sebagai ibu rumah tangga jangan pernah merasa kecil hati karena tidak punya status yang dibanggakan.  Buatlah sesuatu, berkreasilah, hingga membuat keluarga bangga.  Karena sebuah keberhasilan itu di mulai dari keluarga.  Bila keluarga bangga dengan kita maka dunia luar pun lambat laun juga akan mengenal kita.  Yakinlah.
Categories:
Reaksi:

5 komentar:

  1. Fawas kritis sekali ya mbak. Tapi bagus dia berani mengutarakan pendapatnya.

    Allah memberi petunjuk dan membukakan pintu rejeki buat mbak Yuni dan keluarga. Semoga berkah.

    Saya juga sudah merasakan bagaimana membuat sebuah kebanggaan dari anak-anak lewat masakan. Makin mendekatkan.

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Ternyata bisa klo pake ipad, berarti netbookku yg error, duh

      Hapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...