17 September 2013

Posted by Sri Wahyuni on 2:31 PM 2 comments



Peristiwa itu telah menghancurkan keutuhan keluarganya. Puing-puingnya nyaris tak berserakan. Ia tertahan dalam tangis. Kepedihannya teramat dalam. Bahkan iapun sempat berujar, “ibu macam apa aku yang tega membunuh masa depan anak-anaknya?”
**************
Shubuh perlahan merayap meninggalkan jejak malam. Sayup-sayup terdengar lantunan merdu ayat-ayat Allah dari dalam lapas wanita kelas 1b. Seakan pelantunnya tidak ingin kehilangan kasih sayang-Nya. Semalaman ia bersujud di atas sajadah panjang, berharap keajaiban datang menjemputnya.
Lima belas tahun bukanlah waktu singkat untuk menunggu sebuah kepastian. Ya, kejadian lima belas tahun silam masih membekas di pelupuk matanya. Entah setan apa yang meracuni dirinya hingga ia nekad berbuat sekeji itu. Entah apa pula yang melatarbelakangi peristiwa itu sebenarnya. Jiwanya rapuh dihantam gelombang kehidupan yang dahsyat.


Kepergian suaminya membuat dirinya harus menanggung hidup seorang diri dan mengambil langkah yang teramat fatal dalam hidupnya. Seketika itu namanya tenar bak artis yang lagi naik daun. Berbagai media, menyiarkan berita tentang diri dan keluarganya.

”Eliana Susanti, kepala sekolah SD Wiratama telah melakukan pembunuhan berencana terhadap keluarga Rahardi. Peristiwa itu dipicu oleh sengketa tanah yang tidak kunjung selesai. Akibatnya empat orang korban tewas dalam pembantaian itu, Rahardi, istrinya dan kedua anaknya. Pembunuhan sadis itu murni didalangi oleh Eliana dan dibantu kedua anaknya.”

Sontak semua mata terbelalak. Terlebih orang yang berada di dekatnya. Seorang kepala sekolah, yang santun, bersahaja, hormat pada siapapun dan sukses mendidik anak-anaknya tega berbuat senaif itu. Semua tak percaya dengan kenyataan itu. Kenyataan yang membuat semua orang menjauhinya, termasuk rekan guru dan anak didiknya.

Peristiwa itu telah menyeret dirinya dan kedua anaknya, Rio dan Irham, ke dalam jeruji besi hingga belasan tahun lamanya. Bahkan nyawa mereka taruhannya. Meski berusaha banding, namun pihak pengadilan dan beberapa saksi yang ditunjuk memberatkan tuduhan itu. Mereka harus menerima hukuman mati sebagai akibat perbuatannya. Rio, seorang akuntan handal, terpaksa harus meninggalkan pekerjaan dan orang-orang tercintanya demi baktinya pada orang yang telah melahirkannya.

Sementara Irham, lulusan akademi kesehatan, harus rela menanggalkan cita-cita dan seragam kebesarannya demi sebuah pengabdian kepada orang yang dihormatinya. Dan Nita, si bungsu, yang sama sekali tidak mempunyai andil dalam skenario itu, terpaksa dilibatkan sang sutradara untuk melakonkan sebuah alur yang penuh tantangan.

Semenjak kejadian itu, sosok Nita seolah hilang ditelan bumi. Perangainya yang periang dan humoris tiba-tiba saja memudar. Hanya keputusasaan yang memancar dalam raut wajahnya. Andai boleh memilih, lebih baik ia tidak dilahirkan daripada harus menanggung beban hidup seorang diri. Peristiwa itu bak gelombang pasang tsunami yang menghantam dan memporak-porandakan hidup dan cintanya.

Rumah, yang dengan susah payah dibangun almarhum ayahnya dua puluh tahun silam, tiba-tiba saja rata dengan tanah. Mereka yang menghancurkan, tapi Nita harus menanggung akibat perbuatan mereka. Saat peristiwa itu terendus aparat, satu persatu pelakunya diseret ke dalam terali besi. Nita-lah saksinya, meski ia tidak tahu apa sebenarnya yang tengah dilakukan orang-orang tercintanya. Ia sempat melihat amukan massa yang menyatroni rumah tinggalnya, seraya meneriaki yel-yel...

”Bakar rumah pembunuh, usir penghuninya...........bakar rumah pembunuh, usir penghuninya....”
Serentak orang-orang yang berorasi langsung menyiramkan minyak tanah ke setiap sudut rumah itu. Seolah memulai suatu pertandingan, mereka pun memberi aba-aba....satu...dua...tiga..sebuah obor dilempar kea tap rumah itu.

Sontak rumah itu dilalap si jago merah. Satu persatu tiang penyangganya berjatuhan tak kuasa menahan hantaman api yang menyambar-nyambar. Dalam hitungan menit pemandangan itu berubah menjadi hamparan tanah yang tak berbentuk. Puing-puingnya pun nyaris tak berserakan. Yang tertinggal hanyalah sisa-sisa kekejaman si jago merah yang telah menghancurkan segalanya. Bahkan orang-orang disekelilingnya bersorak kegirangan tanpa memandang rasa belas kasihan.

Nita menatap nanar dari kejauhan. Batinnya merintih. Butiran-butiran air mata yang sedari tadi ditahannya tiba-tiba tumpah membasahi pipinya. Ia tak kuasa menahan kepedihan itu. Bahkan seolah ia tak sanggup menanggung akibat perbuatan orang-orang tercintanya. Kepada siapa lagi ia harus berlindung jika orang-orang tercintanya sudah tidak mempedulikan kasih sayang dan arti sebuah cinta?

Apalagi orang-orang yang dulu dengan setia menemaninya satu persatu menghilang. Ironisnya, embel-embel ”Nita si anak pembunuh” selalu menggema kemanapun ia pergi. Nita tak kuasa menanggung semuanya seorang diri. Ia lebih memilih mengakhiri hidupnya.

Tapi beruntunglah nyawanya diselamatkan seorang nenek yang menganggapnya ia adalah cucunya yang hilang beberapa tahun silam. Bagaimanapun juga peristiwa itu menyisakan sebentuk kebencian dan dendam kesumat dalam diri Nita. Lebih baik ia tidak mempunyai orang tua dan saudara. Baginya ibu yang telah melahirkannya telah lama mati terkubur bersama jasadnya. Dan kedua kakaknya tidak lebih hanyalah seonggok patung membisu yang telah dilemparnya ke jurang yang menganga.
****************

Wanita itu enggan beranjak dari tempatnya berdiri. Kenangan belasan tahun silam tiba-tiba menari riang di pelupuk matanya. Satu persatu bayangan itu berkelebat saling menyambar. Seketika ia merasakan sesak didalam dadanya. Seketika ia merasakan sepi. Seketika ia merasakan kebisuan menemani hari-harinya.
“Siapa yang tak butuh cinta? Siapa pula yang tak butuh kasih sayang?’
“ Semua orang yang hidup di dunia ini pasti membutuhkannya”, jawabnya sendiri.

Mustahil bila ada seseorang yang tak butuh semua itu. Tuhan menciptakan makhluknya untuk saling mengasihi dan menyayangi bahkan mencintai tanpa memandang status dan kedudukan, meski itu seorang narapidana sekalipun.

“Sayang, cinta dan kasih sayang itu telah lama kuhancurkan.”
“ Bahkan akulah yang membunuh masa depan keluargaku, tapi kenapa aku merindukannya dan ingin segera meraihnya kembali?”
“ Masih adakah sebentuk rasa itu yang tersisa untukku? Bahkan di sisa akhir hidupku?” Sebentuk penyesalan mengalir dalam sanubarinya.

Andai jarum jam bisa diputar mundur, ia ingin mengulang kehidupannya dari awal, ia ingin membenahi keutuhan keluarganya yang hancur oleh bom peristiwa yang diciptakannya sendiri. Andai ia bisa berpikir jernih kala itu, pasti peristiwa itu tidak akan pernah menghiasi hidupnya. Pasti keluarganya akan baik-baik saja. Pasti orang-orang disekitarnya akan tetap menghargai dan mengakui keberadaannya. Penyesalannya berkepanjangan, seolah enggan beranjak dari dirinya.
**********************************

Semenjak menjadi penghuni lapas beberapa tahun silam, tak satupun sanak keluarganya mengunjunginya, termasuk Nita anak bungsunya. Pedih memang. Tapi itulah kenyataannya. Bahkan menjelang detik-detik pembantaian itu tiba ia masih berharap anak perempuan satu-satunya masih mau menganggapnya sebagai orang yang telah melahirkannya.

Ia sadar perbuatannya memang beresiko tinggi. Andai orang-orang disekelilingnya sudah tak mempedulikannya, itulah resiko yang harus ditanggungnya. Selama merenda hari di dalam penjara, cukup membukakan pintu hatinya. Kepedihan dan kehancuran yang telah ia torehkan seketika berubah menjadi keceriaan manakala ia mengikuti berbagai kegiatan di lapas, bahkan ia pun bisa berbuat banyak untuk rekan-rekannya sesama penghuni lapas. Merekalah yang kadang membangkitkan semangatnya untuk bisa menatap masa depannya yang masih menggantung.

Waktu akan tetap berjalan, sayang perbuatan silam tak kan bisa terhapus dan selamanya akan tetap membekas. Di kebisuan malam, ia tetap berharap secercah kebahagiaan datang menghampirinya. 
“Tapi mungkinkah?” Batinnya sendiri.

Dalam kesendiriannya tiba-tiba ia dicekam oleh rasa takut, takut diberondong peluru regu tembak saat hari pembantaian nanti.
“Oh...tidak adakah sedikit pengampunan bagiku?”
“ Aku masih ingin mengetahui keberadaan anak bungsuku yang sudah lama menghilang, masihkah ia mengingatku?”
“ Tidak bolehkah aku merindukannya, walau hanya sekedar mengecup keningnya, seperti yang pernah kulakukan saat mengantar tidurnya beberapa puluh tahun silam?”
“ Atau masih adakah orang yang menangisi kepergianku bahkan mencegah regu tembak itu memuntahkan pelurunya di kepalaku?” Tiba-tiba tanya itu mendera dirinya.

Ketakukan itu kian menjadi manakala ia mulai menghitung hari. Dua hari lagi eksekusi itu akan tiba. Berarti saat itu pula ia dan kedua anaknya digiring regu tembak ketempat pembantaian. Saat itu pula ia sudah tidak dapat lagi bercengkerama dengan rekan-rekannya sesama penghuni lapas. Saat itu pula ia sudah tidak bisa memberikan ceramah keagamaan, tidak bisa mengajar keterampilan. Bahkan saat itu pula anak bungsunya akan benar-benar menjadi seorang anak yatim piatu. Ooh...
********

”Bu Eliana, ada yang membezuk Anda!”, seru petugas lapas seraya membuka pintu lapas dan menggiring wanita itu ketempat dimana tamu itu menunggunya.

Wanita itu berjalan gontai, jantungnya berdetak kencang, penasaran dengan tamu itu. Sejenak ia tertegun, jauh dihadapannya berdiri sesosok wanita muslimah yang anggun dan cantik. Lekas dihampirinya tamu itu, ingatannya menerawang jauh, sosok itu seperti jelmaan dirinya beberapa puluh tahun silam kala dirinya masih gadis dan belum terjebak dalam peristiwa itu, namun ia tidak sempat berpikir panjang. Saat mendekat tiba-tiba sosok itu menghambur ke pelukannya, tangisnya meledak. Tiba-tiba wanita itu tersadar.

”Nita....anakku.......terimakasih Tuhan, Engkau telah mengantarkan anakku ke pelukanku....”
Wanita itu mendekap erat sosok dihadapannya seolah enggan melepasnya. Merekapun larut dalam kepedihan. Lima belas tahun waktu yang cukup panjang untuk mengubah segalanya. Sosok Nita yang kala ditinggalkan masih kelas 2 SMA telah menjelma menjadi wanita berparas cantik yang membuat mata lelaki tertegun melihatnya.
sumber : monmonvandemon.wordpress.com

“Tapi mungkinkah, masih adakah lelaki yang peduli bahkan bersedia membagi cintanya pada seorang anak narapidana?”
“ Tuhan, kasihanilah dia, anak yang telah menjadi korban kebiadabanku!” Ratap wanita itu seraya mengamati sosok dihadapannya.
”Ibu, maafkan Nita, sungguh Nita adalah anak yang tidak berbakti pada orang tua. Harusnya Nita tidak berbuat seperti ini. Harusnya Nita tetap mengakui dan menghormati Ibu sebagai orang yang telah melahirkan

Nita apapun dan bagaimanapun keadaannya. Andai aku berada di posisi Ibu belum tentu aku bisa setegar Ibu.”
”Anakku, sudahlah, kamu sama sekali tidak bersalah, ibulah yang salah, ibu telah menghancurkan masa depan keluarga ibu, bahkan anak-anak ibu menjadi korban dari kebiadaban ibu. Ibu malu nak, harusnya ibu bisa menjadi seseorang yang melindungi dan mendidik anak-anaknya bukannya malah menyengsarakannya.

Ibu bersyukur, doa Ibu terkabul, bertahun-tahun Ibu berharap bisa melihat anak gadis ibu kembali, walau baru saat ini namun belum terlambat. Ibu bahagia sekali, setidaknya Ibu lebih tenang menghadapi regu tembak. Ibu akan lebih siap menghadapi eksekusi itu sebagai konsekuensi atas perbuatan yang ibu lakukan beberapa waktu silam.

Keduanya hanyut dalam tangis. Seolah keduanya larut dalam pikiran dan penyesalan masing-masing.
“Anakku, andai boleh memilih, Ibu ingin berlama-lama memelukmu dan menemani hari-harimu, sayang besok pagi eksekusi itu menjemput Ibu. Ibu tidak ingin kamu sedih. Ibu berat meninggalkanmu. Tapi, inilah pertemuan kita yang terakhir. Jauh dilubuk hati Ibu yang teramat dalam ada sebentuk penyesalan yang tak kan pernah terhapus. Maafkan Ibu ya nak, Ibu tidak bisa berbuat banyak untukmu, Ibu hanya sebatang duri yang merintangi hidupmu. Ibu akan selalu berdoa untuk kebahagianmu nak, sekali lagi maafkan Ibu ya nak...”

Tangis itu meledak kembali, Nita tidak bisa berkata apa-apa. Hanya anggukan yang ia tunjukkan.
*****

Eksekusi itu telah tiba. Kedua bola matanya memancarkan sebuah harapan, harapan akan kebahagiaan anak gadisnya. Tangis itu telah berubah menjadi senyuman. Senyum yang mengembang dari raut wajah sang narapidana yang siap menjalani eksekusi demi sebuah konsekuensi atas perbuatan yang dilakukannya.

Dan…..sebutir peluru yang dimuntahkan regu penembak itu telah bersarang ditubuhnya. Wanita itu terkulai lemas dalam diam. Ia sudah tak bernyawa.@@@
Categories:
Reaksi:

2 komentar:

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...