20 Agustus 2013

Posted by Sri Wahyuni on 1:38 PM No comments
Entah mengapa tiba-tiba anganku kembali membuncah tentang kenangan lebaran.  Aku juga tak tahu mengapa ragaku terasa melankolis.  Terlebih rentetan peristiwa itu menghampiri hari-hariku.

Ini adalah perjalanan mudik lebaran kedua  semenjak aku mengikuti suamiku yang berdinas di Bali.  Dan ini kedua kalinya pula aku harus menempuh sebuah perjalanan panjang untuk sampai ke kampung halaman.  Aku bersama suami dan anakku harus melalui jarak yang sangat jauh dengan sepeda motor.  Sebuah keputusan yang diawali dengan perdebatan.

Walau akhirnya perdebatan itu harus berakhir dengan sebuah kesepakatan, aku masih merasakan seluruh tulangku seakan remuk dan rasa capek yang terus mendera.  Bukan berarti ide suamiku adalah ide gila yang tak masuk akal, namun sangat penuh pertimbangan.

Mudik dengan mengendarai sepeda motor, mungkin bisa menghemat biaya transportasi, bahkan bisa dialihkan untuk memberikan angpau kepada sanak saudara.  Selain itu dengan membawa kendaraan sendiri, kita bisa leluasa pergi kemana saja tanpa bingung mencari pinjaman kendaraan.  Dan yang lebih penting, dengan mengendarai sepeda motor, sewaktu-waktu kita bisa singgah di rumah saudara atau kerabat.  Bahkan, kita pun tidak terikat waktu.

  
Honda PCX 125, untuk mudik

Kami tiba di rumah tepat di malam takbiran.  Esok pun lebaran tiba.  Sebuah moment yang jelas ditunggu-tunggu oleh seluruh umat muslim yang merayakan kemenangan.  Namun bagiku lebaran kali ini terasa getir.  Sebuah sms datang membawa berita duka.  Mertua adikku meninggal saat itu.  Belum hilang rasa tercengangku tiba-tiba khabar duka juga datang dari kerabat dekat suamiku yang mengabarkan salah satu anggota keluarganya meninggal.  Tak terasa air mataku jatuh.  Sedih mendengarnya.

Dua hari kemudian, di saat rumah penuh sanak saudara yang bersilahturahmi, keponakanku berlari tergopoh-gopoh yang mengatakan kalau anakku jatuh tertabrak motor di jalan.  Deg!!!  Mendengar kalimat itu campur aduk perasaanku.  Secepat kilat akupun berlari mendapati anakku yang beberapa bagian di tangan dan kakinya membiru.  Astaghfirullah........aku masih bersyukur karena keadaan anakku tidak seperti dalam bayanganku.

Belum lagi hilang rasa tercengangku, ketika aku mempersiapkan perlengkapan untuk kembali ke Pulau Dewata, bersamaan itu pula saudaraku datang ke rumah.  Sebuah moment indah yang kurasakan saat itu, karena baru kali ini aku bisa kembali bertemu mereka setelah aku memutuskan untuk mengikuti suamiku.  Namun canda renyah kami tiba-tiba harus terasa getir ketika anakku kembali terjatuh dari teras depan rumahku.  Duh...ngilu rasanya.

Lengkap sudah penderitaan anakku, sekujur tubuhnya dipenuhi dengan memar-memar yang membuat suhu badannya panas dingin.  Akhirnya kamipun memutuskan untuk menunda keberangkatan ke pulau Dewata.  Tak henti-hentinya kalimat istighfar selalu kuucapkan seraya memohon ampun atas dosa-dosa yang kuperbuat, sambil berharap agar tak akan terjadi lagi musibah yang menimpa aku dan keluargaku.

Bahkan rasa syukur itu senantiasa kurapalkan dalam mantraku ketika melihat kondisi anakku yang membaik.  Sungguh aku merasakan lebaran kali ini bagaikan melihat pelangi yang penuh warna.  Betapa tidak!!!  Rentetan peristiwa itu jelas membuatku menguras segala rasa dan emosi.  Namun satu hal yang dapat kumaknai bahwa Allah Maha Pemberi Petunjuk.  Bisa jadi orang lain akan terus geleng-geleng kepala melihat kenekatan kami yang menempuh jarak Denpasar - Blitar dengan sepeda motor.  Ternyata itulah kehendak Allah.  Bahwa kami harus menerima "Pelangi Lebaran" hadir dalam kehidupan kami.  Semoga semua ini menjadi pengalaman berharga yang mendorong kami pada sebuah kesadaran untuk memaknai arti kehidupan.


Categories:
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...