4 Juli 2013

Posted by Sri Wahyuni on 6:12 AM No comments



Bagi orang yang senang berselancar di dunia maya, chatting bukanlah hal baru. Bahkan dengan chatting kita dapat berkomunikasi dengan siapapun diberbagai penjuru dunia, baik dalam maupun luar negeri. Pastinya banyak manfaat yang didapat dari chatting, selain punya banyak teman, kita juga dapat tambahan informasi atau pengetahuan yang bisa memperluas wawasan. 


Dakwatuna.com
Bagi cewek atau cowok yang masih jomblo, chatting adalah ajang untuk mendapatkan jodoh, ya kali aja bisa cocok dan dapat dijadikan teman sehidup semati. Pantas aja warnet-warnet dipenuhi muda-mudi yang rata-rata masih nge-jomblo untuk nge-date lewat internet. Awalnya saling bertukar identitas, lama-kelamaan bikin appoinment untuk ngedate bareng.


Sayangnya, chatting sering digunakan untuk menyebarkan informasi yang tidak benar. Entah iseng, usil, jahil atau selevelnya, yang jelas perbuatan ini bisa merugikan pihak yang merasa dirugikan. Ini sering terjadi. Makanya berhati-hatilah dalam memberikan informasi kepada orang lain, karena bukan tidak mungkin kitalah yang menjadi sasaran dari informasi tersebut. 


Dan akupun pernah mengalami kejadian seperti itu. Sebenarnya aku bukan tergolong gaptek karena aku suka mengkonsumsi teknologi baru, termasuk berselancar di dunia maya. Ini pun sering kulakukan untuk mendapatkan informasi terkini tentang semua hal. Tapi yang namanya chatting entah mengapa tak pernah kulakukan. 

Rasanya enggan sekali untuk melakukannya. Anehnya, tiba-tiba saja aku seperti selebriti yang punya banyak fans, dibanjiri penelpon yang mengaku pernah chatting denganku. Telingaku serasa mau tuli, kakiku capek harus naik turun tangga, manakala telp di tempat kost-ku berdering. 

Saat telp berbunyi, mbak Icha yang berada di kamar atas dekat tempat telp meneriakiku ”Yuni ada telp tuh”, sontak aku berlari menaiki tangga itu untuk menerima telp, setelah selesai baru aku turun. Ketika telp itu berdering lagi dan mbak Icha –si operator telp- kembali meneriakiku, lagi-lagi aku ke atas, ya itung-itung olahraga di dalam rumah. Dan hampir bisa dipastikan kalau tiap hari ada 5 penelpon asing yang mencariku. Rasa bingung, marah dan penasaran bercampur dibenakku.


Aku heran siapa yang telah berani mencuri identitasku. Mengapa tidak dia saja yang memberikan identitas pribadinya kepada orang lain? Mengapa harus memakai identitasku, lengkap lagi? Apa dia benci aku, ingin mempermainkanku atau hanya sekedar iseng? Yang jelas orang yang berani melakukan ini pasti ada disekitarku dan tahu kredibilitasku, atau mungkin dia tahu kalau saat ini aku sedang jomblo hingga dia berusaha mencarikanku TTM (teman tapi mesra). 

Tapi mengapa harus serepot itu? Ah, masa bodoh dengan seribu tanya yang tak ada jawabnya itu. Yang jelas dengan para penelpon itu aku dibuatnya pusing, jenuh dan bete banget. Betapa tidak. Tadinya aku berharap semoga saja ada satu yang cocok buatku, ternyata anggapanku salah.


Saat penelpon itu mengaku dirinya bernama Ruli dan memintaku menemuinya di sebuah terminal bus, aku meng-iya-kan. Kuamati satu persatu orang yang duduk di halte, namun ciri-ciri yang disebutkan Ruli -tinggi, kurus dan berambut gondrong- tak kutemukan. Sampai akhirnya kudapati seorang cowok yang bersandar di tembok dengan wajah sayu dan pucat seperti habis nge-drug dengan perawakan yang mirip diceritakan Ruli. Kuhampiri cowok itu dan dia langsung menebakku dengan benar. 

Lama aku mengamati cowok itu, ada rasa gamang bercampur takut saat berdekatan dengannya. Mengapa harus cowok semacam ini yang kutemui, apa pantas dia menjadi temanku? Rasanya aku ingin lari menjauh darinya, tapi ada rasa tidak enak menyelinap dibenakku. Ah biarlah sehari ini saja aku menemaninya. Saat ngobrol dengannya nada bicaranya ngelantur kemana-mana, akupun sudah tahu kalau dia suka mengkonsumsi obat terlarang. 

Akhirnya dengan berani kuputuskan untuk meninggalkan cowok itu dengan alasan kalau ada kuliah siang hari. Baru lima menit sampai di tempat kost, telp itu kembali berdering, lagi-lagi mbak Icha berteriak lantang, ”Yuni telp dari Ruli...”, aku lekas naik keatas, saat kuangkat gagang telp dan kusapa dengan ”halo”, ada suara di seberang sana, ”Yun, aku pinjam uang dong, aku habis kecopetan, dompetku kutaruh disaku belakang dan tiba-tiba saja raib, aku gak bisa pulang, hanya kamu yang bisa bantu aku, please ya, kutunggu ya Yun”. Aku bingung harus bilang apa, kujawab aja sekenanya, ”iya tunggu sebentar aku akan kesitu”. 

Padahal sampai kapanpun aku nggak bakalan nemuin si Ruli. Ada rasa takut yang menghantui diriku. Makanya aku berpesan pada mbak Icha, kalau ada telp dari Ruli yang mencariku, kusuruh bilang kalau aku sedang tidak ada di rumah. Sejak saat itu Ruli sudah tidak menghubungiku lagi.


Di lain waktu ada penelpon lagi yang memperkenalkan dirinya bernama Totok dan mengaku seorang anggota TNI berpangkat sersan dua. Dari identitasnya saja aku sudah bisa menebak pasti cowok ini berperawakan tinggi, kekar dan atletis –mungkin-. Lagi-lagi anggapanku salah. Saat aku menemuinya bukan main terkejutku. 

Bayangan seorang anggota TNI dibenakku nyaris tidak ada sama sekali. Bahkan orang yang ada dihadapanku mirip seorang pekerja kasar, kulitnya hitam legam, badannya kurus kering, kepalanya botak nyaris tak ditumbuhi rambut sehelaipun, dan satu lagi matanya jelalatan kesana kemari. Jangan-jangan dia hanya seorang anggota TNI gadungan, perawakannya saja tidak meyakinkan. 

Bukan hanya itu, dari gelagatnya saja sudah mencurigakan, baru kenal beberapa menit sudah berani mengajakku bermalam di puncak. Wah, bukan main geramku. Segera kucari akal untuk meyakinkannya kalau aku ada urusan lain. Sampai akhirnya, sebuah taksi tiba-tiba berhenti dihadapanku, tanpa pikir panjang kubuka pintu taksi itu dan aku menyuruh pak sopir untuk segera melarikan taksinya tanpa memberi kesempatan Totok untuk mengikutiku. 

Di dalam taksi aku mengumpat diriku sendiri, mengapa aku bertindak sebodoh itu mau menemui orang yang sama sekali belum kukenal sebelumnya.


Pada kesempatan lain masih banyak penelpon asing yang mengaku pernah chatting denganku dan ingin mengenalku lebih jauh. Rata-rata mereka ingin langsung bertemu denganku. Tapi aku menolaknya dengan berbagai alasan. 

Aku harus belajar dari pengalaman sebelumnya, kalau aku tidak boleh menjadi cewek lemah, yang pasrah pada keadaan. Aku harus pandai menyeleksi siapa saja yang cocok untuk menjadi temanku. Meski aku jomblo bukan berarti aku mau menerima sembarangan cowok, ada kriteria-kriteria khusus yang jadi patokanku untuk memilih teman sejatiku. 

Yang jelas, siapapun yang menyebarkan identitasku untuk chatting, bukan membuatku senang tapi malah menyengsarakanku dengan mengenal berbagai tipe cowok aneh yang bikin aku pusing, ketakutan sampai akhirnya aku berpendapat kalau jodoh itu sudah ada yang mengatur, kita pun tidak bisa menolak atau berpaling dari kuasa-Nya. 

Dan kalau pun jodoh belum berpihak pada kita jangan berusaha mendekati sembarang orang untuk dipaksa berjodoh dengan kita. Yakinlah bahwa jodoh itu pasti datang, tapi entah kapan semua orang tak ada yang tahu.........
Categories:
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...