19 Juni 2013

Posted by Sri Wahyuni on 6:38 AM 2 comments



Mengapa saya berkata demikian?  Ya….saya menganggap bahwa segala sesuatu yang kita dapatkan di dunia ini haruslah di bayar. 

Coba anda bayangkan.  Saat anda lapar, tentunya anda akan berusaha membeli makanan.  Atau kalau harga makanan itu terlalu mahal, anda akan membeli bahannya dan memasaknya sendiri.  Lantas bagaimana anda bisa membeli bahan itu?  Sudah pasti dengan uang.  Dari mana anda dapatkan uang?  Ya, sudah barang tentu anda harus bekerja untuk mendapatkan uang itu.  Sebuah bentuk pengorbanan dan usaha untuk mendapatkan sesuatu demi meraih sesuatu pula.

Lantas bagaimana dengan hadiah, pemberian, kado, bingkisan, souvenir?  Masihkah anda menganggap sebagai sesuatu yang gratis.  Saya tetap berkata “tidak” untuk hal ini.  Mengapa demikian?
Mari kita sama-sama berpikir tentang hal ini.  Saya menganggap sebuah harga tidak hanya berpatokan pada besarnya uang yang kita keluarkan, namun lebih dari itu.  Sebuah usaha, kerja keras bahkan pengorbanan sekalipun saya anggap sebagai “harga”.


Kalau kita mendapatkan hadiah tentunya kita berusaha terlebih dahulu untuk mendapatkan hadiah itu.  Sebagai contoh, ketika kita mendapat informasi adanya lomba GiveAway atau lomba kepenulisan lainnya, maka kita akan berusaha membuat tulisan itu sebagus mungkin dan mengirimkannya kepada panitia yang mengadakan lomba itu.  Bila tulisan kita dianggap bagus dan menginspirasi maka kita dinyatakan menang dan mendapat hadiah.  Jadi, tulisan itulah bentuk usaha kita.

Demikian juga hadiah-hadiah lainnya, tentunya diperlukan sebuah pengorbanan untuk mendapatkan.  Tidak mungkin hadiah itu akan datang sendirinya tanpa kita melakukan tindakan sebelumnya.
Sama halnya dengan pemberian, undangan makan.  Kadang kita menganggapnya sebagai sesuatu yang gratis.  Coba bayangkan, orang lain akan memberi sesuatu kepada kita, akan mengundang kita di acara hajatan keluarganya, tentunya dia sudah lebih dahulu mengenal kita.  Tidak mungkin dong orang yang tidak kenal kita akan memberi sesuatu atau mengundang kita makan.  Lantas bagaimana dengan orang yang mendapatkan bantuan karena musibah yang dihadapinya?  Bukankah itu sebuah pemberian yang gratis?

Adanya pemberian, undangan makan, itu didahului sebuah interaksi perkenalan.  Tidak ada orang yang tidak kita kenal tahu-tahu memberikan sesuatu atau mengundang makan.  Bahkan orang yang terkena musibah pun sebelumnya juga melalui interaksi perkenalan.  Ketika dia mengalami musibah, lalu kejadian yang menimpa dirinya diketahui orang lain.  Setelah itu orang lain merasa iba padanya, kemudian dia membantunya.  Sebuah proses bukan?

Demikian halnya dengan kado, bingkisan dan souvenir.  Kado kita dapatkan bila kita mengundang teman atau kerabat di acara ulang tahun atau pernikahan kita.  Kalau kita tidak menyebarkan undangan dan tidak mengadakan acara itu tentu kado tidak akan kita dapatkan.  Itulah sebuah usaha untuk mendapatkan kado.   
Lalu bingkisan, karena hubungan kita yang baik dengan partner kerja lantas kita mendapat bingkisan hari raya, misalnya.  Begitu juga dengan souvenir, karena kita datang di acara pernikahan teman, akhirnya kita mendapatkan souvenir pernikahan.  Yah….semuanya butuh usaha untuk mendapatkannya.

Bahkan di dalam angkutan umum yang penuh dengan penumpang, sementara sang kondektur tetap memasukkan penumpang tanpa memikirkan banyaknya penumpang yang berdiri.  Ada seorang ibu hamil atau wanita tua renta, sementara seorang pemuda mendapat tempat duduk yang layak, masihkah dia merelakan tempat duduknya untuk wanita hamil atau wanita tua renta itu?  Mustahil!!!  Jaman sekarang rasa belas kasihan itu sudah semakin luntur.  Orang semakin terpuruk pada egonya sendiri.  Walau masih  kita jumpai orang yang dengan tulus memberikan bantuan, namun semuanya bisa dihitung dengan jari.  Kalau wanita hamil atau wanita tua renta itu ingin mendapatkan tempat duduk, tentu ia akan berbicara baik-baik, meminta tempat duduk pemuda itu untuk diduduki, dan belum tentu ia mendapatkannya.  Sebuah perjuangan bukan?

Itulah…..segala sesuatu yang kita dapatkan di dunia ini bukanlah  gratis alias secara cuma-cuma.  Hadiah, pemberian, kado, bingkisan, undangan makan, dan souvenir pun tidak datang dengan sendirinya.  Melainkan diperlukan sebuah usaha untuk mendapatkannya, karena memang tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini.  Tidak ada sesuatu yang tiba-tiba kita terima atau datang dengan sendirinya tanpa kita melalukan usaha sebelumnya.  Lantas masihkan anda berpikir sesuatu yang gratis itu ada???
 
Categories:
Reaksi:

2 komentar:

  1. Alhamdulillah, saya bisa bernafas menghirup udara dunia setiap hari tanpa bayar. Nikmat bernafas, GRATIS dari Allah SWT. Bayangkan mereka yang sakit di rumah sakit dan utk bernafas saja memerlukan oksigen yang dibeli dengan harga jutaan. Alhamdulillah, hingga detik ini Allah masih beri nikmat bernafas GRATIS tanpa pusing membayangkan tagihan utk membayar oksigen yang saya hirup setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik --SETIAP SAAT.

    BalasHapus
  2. eh, bener juga komentar di atas, oksigen gratis :)

    BalasHapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...