12 Juni 2013

Posted by Sri Wahyuni on 8:33 AM 2 comments
Ternyata tidak selamanya berkata jujur dan menguak tabir kebenaran itu akan berbuah manis.  Jujur akan ditentang, dikucilkan bahkan dimusuhi.  Namun pada akhirnya kejujuran itu pasti terkuak.  Seperti pepatah...."yakinlah bahwa sesuatu itu akan indah pada waktunya".

Sabar....itulah salah satu sikap yang harus ditanamkan saat menguak tabir kejujuran.  Karena hanya sabarlah yang menjadi kunci diterimanya kejujuran.  Jujur memang mahal harganya, bahkan lebih mahal dari harga sekilo daging sapi......eitt memang jujur sama dengan makanan? hehehe....intermeso sebentar supaya tidak tegang bacanya.

Kadang dengan berkata jujur, mengatakan yang sebenarnya, menguak sebuah kebohongan, penipuan atau bahkan mengendus pencurian, akan membuat diri kita kena batunya.  Tak jarang kita balik difitnah, dicaci atau dikucilkan.  Namun bila permasalahan itu menyangkut kepentingan orang banyak atau harga diri kita, apa salahnya kita buka kedok kebohongan, kita tegakkan sebuah kejujuran.  Toh pada akhirnya dimana-mana kejujuranlah yang selalu menang.

Di TV-TV atau media massa hampir tiap hari menyiarkan berita sang koruptor.  Seolah kejahatan yang bernama korupsi ini sudah mengakar kuat pada bangsa kita.  Susah di tumpas habis, ibarat mati satu tumbuh seribu.  Satu di basmi muncul yang lain.  Satu di penjara, perkara belum selesai disidangkan, muncul lagi kasus-kasus serupa yang perlu penanganan.



Kalau kita bisa sedikit mencermati kehidupan yang melingkupi kita, sebenarnya tindak korupsi itu hampir merajalela di tanah air ini.  Hanya saja yang lebih mencolok adalah tindak korupsi berskala besar.  Nah...bagaimana dengan kebohongan-kebohongan kecil?  Apakah dibiarkan merajalela.  Ingat...bahwa hal yang besar asalnya dari hal yang kecil.  Justru korupsi skala kecil inilah yang harusnya diberantas supaya tidak menetas menjadi korupsi besar.

Kebetulan saya tergabung dalam sebuah organisasi ibu-ibu.  Sepanjang saya masuk di dalam organisasi ini, hal yang saya telusuri adalah pemegang keuangan.  Dan nampaknya jabatan keuangan ini dimana-mana selalu menimbulkan masalah.

Uang bagaimanapun juga merupakan salah satu surga dunia yang menggiurkan.  Bila kita mendapat amanah untuk memegang keuangan suatu organisasi, hendaknya benar-benar kita niatkan untuk mengemban tugas itu.  Sedikit saja salah langkah akan berakibat fatal, bahkan menjurus ke korupsi.

Beberapa kali saya membuka kedok kebohongan ibu-ibu pemegang keuangan.  Ternyata ujungnya malah menimbulkan masalah.  Si empunya data keuangan itu marah besar.  Dia balik memfitnah saya, menuding saya yang tidak pecus memeriksa. Bahkan mengajak ibu-ibu yang lain untuk menjauhi saya.  Saya anggap itu sebagai tameng saja untuk mengelabuhi semua orang agar kejahatannya tidak terendus.

Salah satu yang saya pegang adalah sabar.  Namun saya tetap berusaha menegakkan kebenaran. Sebuah keyakinan muncul dalam diri saya, suatu saat kebenaran itu pasti terungkap.  Dan memang harus menunggu lama serta pengorbanan yang luar biasa banyaknya demi sebuah kejujuran.

Pada akhirnya memang kejujuranlah yang menang.  Tanpa sengaja teman saya juga membuka tabir kebohongan itu.  Akhirnya si pemegang keuanganpun diberhentikan dari jabatan keuangan.  Fitnah, tudingan miring yang tadinya melekat pada diri saya perlahan sirna sejak kasus itu benar-benar terbukti.

Nampaknya memang jabatan pemegang keuangan ini rawan penipuan.  Si pemegang data, bisa saja mengotak-atik data, mengolah keuangan sedemikian rupa hingga bisa mengelabui pimpinan.  Namun sepandai-pandai ia menyimpan rahasia kebusukannya, toh pada akhirnya akan terbongkar juga.

Makanya.....bila kita mendapat amanah sebagai pemegang keuangan, janganlah mudah termakan oleh tipu daya setan.  Berapapun uang yang kita kelola itu bukan hak kita, melainkan sebuah amanah yang harus tetap kita jaga agar orang lain percaya kepada kita.  Jangan lantas mengedepankan sebuah protes..."masak pegang uang segini banyaknya tidak mendapat imbalan..." atau saat terendus kebohongannya, lantas mengatasnamakan "kesulitan ekonomi" sebagai penyebabnya.  Tugas yang kita pegang adalah sebuah amanah yang harus kita emban dan kita jaga bukan malah dinodai dengan sebuah kebohongan atau penipuan.

Semahalnya sebuah kejujuran mau tidak mau harus kita tegakkan demi membuat citra kita di mata orang lain menjadi bagus.  Dengan jujur orang semakin percaya kepada kita.  Satu hal yang harus kita ingat bahwa segala sesuatu yang kita lakukan, kita kerjakan pasti dlihat Allah.  Mungkin orang lain tidak melihat kebohongan kita, namun Allah Maha Tahu.  Jadi marilah kita tegakkan sebuah kebenaran yang mengarah kepada kejujuran, semata-mata hanya Allah.


Categories:
Reaksi:

2 komentar:

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...