20 Juni 2013

Posted by Sri Wahyuni on 12:47 PM 15 comments


 Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
Namun kala ada pria tak berdaya
Tekuk lutut di sudut kerling wanita

Tulisan di atas adalah penggalan lagu kenangan ciptaan seniman legendaries tempoe doeloe, Ismail Marzuki.  Yah….itulah wanita yang mau tidak mau harus hormat dan tunduk pada pria yang menjadi suaminya.

Namun apalah jadinya bila pria menjadi pelayan wanita?  Judul di atas saya angkat karena terus terang saya merasa prihatin melihat beberapa pemandangan yang tidak seharusnya dilakukan seorang pria yang sebagai suami sekaligus sebagai kepala rumah tangga.

Sungguh iba rasanya manakala saya melihat seorang suami yang berseragam menggendong anaknya masih bayi dengan selendang, atau melihat seorang suami yang kebingungan karena tangan kanannya harus memegang setir motor sementara tangan kirinya memegang anak bayi dalam gendongannya yang lagi tidur.  Sedang di belakangnya masih ada dua orang anak lainnya yang masih kecil ikut dibonceng dalam motornya.  Sungguh miris melihatnya.

Melihat pemandangan seperti itu, pertanyaan yang muncul di benak saya adalah “dimana ibunya?  Dalam beberapa kasus, mungkin ibunya kerja, atau ibunya meninggal, atau bahkan mereka anak-anak korban perceraian, sehingga mengharuskan suami menggantikan peran istri, saya memakluminya.  Namun bila keadaan keluarga itu baik-baik saja rasanya iba melihat pemandangan seperti itu.  Pria seperti tidak mempunyai harga diri.  Sejelek apapun pria, atau sekecil apapun gaji yang didapatkan dari kerjanya, pria tetaplah suami yang menjadi kepala keluarga dan bertanggung jawab atas kelangsungan keluarga itu, hendaknya harus dihormati.

Bahkan pemandangan lain yang lebih mengenaskan manakala saya melihat seorang suami yang harus bangun pagi-pagi.  Saya melihat dia rela menggosok wajan atau dandang yang menghitam, sementara istrinya enak-enakan di peraduan dengan alasan ia begadang semalaman gara-gara anak bayinya rewel.

Memang dalam sebuah keluarga urusan keluarga akan menjadi urusan bersama.  Demikian juga dalam pengasuhan anak.  Anak akan menjadi tanggung jawab bersama, ada kalanya dia di asuh oleh ibu dan ada saatnya dia bersama ayahnya.   

Namun sebagai wanita yang menjadi istri dan ibu hendaknya bisa menempatkan diri.  Akan lebih baik bila istri bisa menghormati suami, walau tidak menutup kemungkinan suamipun mau dengan ikhlas mengerjakan tugas-tugas istrinya di sela-sela kesibukannya di kantor.  Maka dari itu marilah kita sebagai istri sama-sama menghormati suami kita supaya keharmonisan rumah tangga tetap terjaga.
Categories:
Reaksi:

15 komentar:

  1. Nggak masalah pria berseragam menggendong balita. Selama dia senang melakukannya, jelas ini bukan bentuk penjajahan. Kenapa harus kaku dan judgemental?

    BalasHapus
  2. Hmmm... saya kok melihatnya berbeda yaa... Saya tidak melihat pria yang mengerjakan tugas domestik jatuh kehormatannya, justru saya terkadang salut, kepada seorang suami dengan ikhlas membantu tugas istrinya.
    Dalam sebuah rumah tangga pasti ada kesepakatan2, pembagian tugas, dll yang kita tidak tahu kaan?
    Lain cerita kalau sang suami melakukan semua itu dengan terpaksa, krn istrinya pemalas, atau istrinya galak, dsb.. ini penjajahan namanya :D

    BalasHapus
  3. suami yang mau menggosok wajan, bukan bearti istri gak menghormati suami..loh...,
    Mungkin suaminyalah yang suka rela...ingin membantu istrinya., karena kasihan lihat istri yang semalaman begadang karena anaknya rewel..dan ketika siang istrinya ngantuk.,.suami yang menggantikan...

    suami yang mau membantu pekerjaan istri itu punya nilai plus loh. kecuali jika istrinya membentak suami ini itu.. atau marah2 karena pendapatan lebih besar .... hmmm gitu deh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. siiiip good comment.....terima kasih mba

      Hapus
  4. Sepakat dengan komentar-komentar di atas. Rasulullah pun suka membantu istrinya dan mengerjakan tugas-tugas domestik, dari mulai menjahit kancing bajunya sendiri, memperbaiki sandal, menimba air, sampai memerah susu. Dan itu sama sekali tidak mengurangi kemuliaannya sebagai seorang Rasul :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya ya memang itulah seharusnya....siip terima kasih komentarnya bagus banget mba

      Hapus
  5. kunjungan pertama,,,

    mak, soal tugas dan tanggung jawab antara suami dan istri harus saling menopang.... dan semua harus berjalan diatas kodratnya :)


    minta folback blog ku ya...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang harus ada komunikasi yang baik antara suami dan istri agar pembagian tugas dalam rumah tangga seimbang dan saling melengkapi terima kasih

      Hapus
  6. Saya tidak memandang hal tersebut sebagai sebuah sikap penjajahan istri terhadap suami. suami saya tidak segan membantu menyuapi anak sambil di gendong kain karena rasa perhatian dan sayangnya terhadap anak kami. dia tidak segan membantu mencuci piring karena ingin membantu saya yang sibuk dengan kegiatan lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang itulah seyogyanya dalam rumah tangga harus bisa saling membantu dan melengkapi, terima kasih

      Hapus
  7. Kami tidak mempunyai khadimat/pembantu/asisten rumah tangga. Suami tidak segan membantu pekerjaan RT, beliau pun pekerja kantoran. Yang perlu diketahui pekerjaan ibu rumah tangga pun sangat melelahkan.

    Masih teringat kisah teladan Rasulullah SAW yang membantu pekerjaan rumah tangga. Beliau mengerjakan pekerjaan rumah yang sekiranya bisa dilakukan beliau, seperti menjahit sendiri bajunya yang sobek. Beliau pun menggendong kedua cucunya.

    Tidak terhina seorang suami yang menggendong balitanya dengan selendang. Dalam sebuah rumah tangga, adalah saling melengkapi dan membantu bukan menjajah. Tetap kita saling menghormati antara suami dan istri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sungguh suami yang mulia ya mba bila ia mau berbagi peran di saat istrinya sibuk, dan ia dengan ikhlas mau melakukannya semata-mata demi rasa sayangnya pada keluarga. terima kasih

      Hapus
  8. Selama itu menjadi sebuah kesepakatan dari suami istri, tak masalah berbagi tugas rumah tangga. Yang penting keduanya mengkomunikasikan pembagian tugas itu dengan baik dan ikhlas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya bener banget mba Niken saya setuju, terima kasih

      Hapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...