1 Mei 2013

Posted by Sri Wahyuni on 11:03 AM No comments
Bahagia itu ketika kita bisa berbagi dengan yang lain, walau itu hanya berbagi melalui tulisan, tentang sebuah pengalaman.  Semoga bisa menginspirasi.

......................................

Bagaimana seandainya satu rumah di huni oleh dua keluarga?  Tentunya muncul dalam benak kita beberapa pertanyaan.  Mengapa harus tinggal serumah bukankah lebih baik kontrak rumah misalnya?  Atau dengan siapa anda tinggal?  Kalau menumpang saudara atau orang tua, mungkin masih bisalah ditolerir. 

Dua keluarga yang saya maksud disini adalah bukan keluarga, bukan family, bukan kerabat atau teman, melainkan baru kenal yang akhirnya karena suatu alasan mereka tinggal serumah.  Ya, mungkin saja hal ini bisa menimpa siapa saja, termasuk Anda.

Kebetulan saya hanya ibu rumah tangga, sementara suami saya adalah seorang abdi negara.  Tugasnya selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.  Dan ada kebanggaan tersendiri bagi saya ketika mengikuti suami bertugas.  Di samping menambah wawasan, saya bisa mendapat banyak pengalaman, terutama dalam berinteraksi dengan warga di tempat tersebut.

Pertama kali suami saya dinas, ditempatkan di Papua.  Kami tinggal di sebuah asrama.  Meski kami berasal dari daerah, bahkan pulau yang berbeda, namun kami menganggap satu sama lain sebagai keluarga.  Hal yang menyedihkan, ketika asrama tempat menampung kami penuh.  Rumah-rumah yang dihuni masing-masing keluarga tidak satupun ada yang kosong.  Dengan terpaksa beberapa keluarga baru harus rela tinggal di mess.  Rumah yang minim untuk di huni bagi yang sudah berkeluarga.  Satu ruangan blong yang bisa di sekat menjadi ruang tamu dan kamar tidur.  Sementara mess itu sendiri mempunyai empat ruangan kosong.  Sedangkan untuk dapur, hanya ada satu ruangan khusus dapur.  Bisa kita bayangkan betapa ramainya di pagi hari di kala mereka masak.  Atau saat akan ke kamar mandi.  Kebetulan kamar mandi yang disediakan hanya 2 buah.  Pasti harus mempunyai kesabaran yang ekstra untuk menunggu giliran masuk kamar mandi.

Saya rasa wajar kalau suatu saat terjadi perselisihan.  Mereka berasal dari daerah yang berbeda, punya kepribadian yang berbeda pula.  Bahkan kepentingannya pun juga berbeda. 

Suatu hari ada yang datang kepada saya, mengadukan suaminya yang baru saja memukulnya.  Sang istri dengan wajah yang kusam sambil memegang perutnya.  Dia bilang suaminya baru memukul perutnya dan mengenai bekas jahitan operasi cesar.  Miris mendengarnya.  Masalah keluarga harus ditunjukkan ke orang lain. Usut punya usut ternyata istrinya yang keterlaluan.

Dua hari lagi, penghuni yang lain dari mess itu datang ke rumah, melaporkan keluarga sebelahnya yang mau membunuhnya.  Setelah saya selidiki ternyata mereka berebut kamar mandi.  Tragis mendengarnya.

Kemudian tak berapa lama lagi, ada yang datang ke rumah saya, dia bilang terganggu dengan tetangganya yang tidak mempunyai rasa toleransi.  Ketika siang hari, di saat jam istirahat, sang tetangga dengan kerasnya membunyikan tape-nya sambil berkaraoke.  Ia pun tidak bisa istirahat, ketika si empunya tape diperingatkan dia malah marah-marah, dan menantang mengajak duel.  Dan tak begitu lama duelpun terjadi di arena dapur.  Sontak semua penghuni mess bangun dari istirahatnya dan melihat tontonan gratis yang bagi saya amat memalukan.

Di lain hari, ada yang lapor lagi katanya tetangganya tidak mau berbagi air.  Dan katanya, katanya, masih banyak lagi katanya yang sayapun juga bingung untuk menjawabkan.  Satu alasan karena saya belum pernah merasakan hidup seatap bersama. 

Harusnya ketika dengan terpaksa kita tinggal dalam satu mess, hal yang pertama kita lakukan adalah menerima keadaan.  Bagaimanapun juga, namanya mess, ruangan yang amat kecil dan di huni oleh beberapa keluarga.  Tentunya banyak perbedaan.  Nah, kita sebagai penghuni, harus pandai-pandai menyikapi hal itu.  Kita harus bisa mengalah, mengerti perasaan orang lain.  Namun bukan berarti kalah.  Kita harus bisa menjaga sikap kita, juga harus bisa menghormati orang lain.  Intinya hidup bersama harus bisa berbagi dalam segala hal.  Bukan malah menonjolkan egonya masing-masing.

Ya, itu dulu ketika suami saya masih menduduki sebuah jabatan dan saya mendapat amanah untuk memimpin istri-istri dari anggota suami saya.  Waktu itu pula saya hanya melihat kehidupan mereka, menjadi penengah di saat mereka selisih paham.

Sekarang, hal yang serupa menimpa kami.  Setelah sekolah suami saya pindah dari Papua.  Sekarang kami berada di Denpasar.  Kalau dulu di Papua kami mendapatkan rumah dinas secara gratis, di Denpasar tidak seperti itu.  Bila ingin mendapatkan rumah dinas kami harus membayar ganti rugi.  Sementara biaya ganti ruginya sangat mahal, 60 juta, 70 juta bahkan ratusan juga.  Siapapun pasti heran dan bertanya-tanya, mengapa rumah dinas harus diperjualbelikan?  Itulah kenyataannya.  Sudah menjadi sebuah tradisi yang rasanya sulit untuk dihapus.  Sementara kami, rasanya tak mampu untuk membayar biaya ganti rugi yang teramat sangat mahal.  Gaji suami tinggal separo, separonya untuk bayar cicilan bank yang belum lunas.  Sementara dari yang separo itu saya gunakan untuk bayar asuransi anak, bayar cicilan KRP dan sisanya untuk menyambung hidup kami selama sebulan.  Nyaris tak ada sisa di akhir bulan.  Andai kontrak rumah pun kami tak mampu.  Lalu pasti ada pertanyaan, untuk apa hutang bank?  Sudah pasti untuk biaya sekolah suami dan mengurus pindah dari Papua ke Jawa.  Tapi semua itu tetap saya syukuri.  Saya bersyukur kami bisa makan sebulan, walau seadanya. Tanpa harus hutang sana hutang sini.

Lantas dengan rumah?  Akhirnya suami mendapat ijin dari pimpinan untuk menduduki rumah jabatan seseorang.  Kebetulan beliaunya sudah mempunyai rumah dan rumah jabatan itu masih ada beberapa kamar yang kosong.  Namun dalam rumah tersebut sudah di huni satu keluarga yang sebelumnya kita belum pernah kenal.

Sehari, dua hari bahkan seminggu, suasana masih terlihat indah.  Hari berikutnya mulailah muncul perbedaan itu.  Pertengkaran antar anak-lah, tidak mau berbagi, dan masih banyak hal-hal sepele yang membuat saya mungkin merasa jengkel.  Namun semua itu saya kembalikan, bahwa saya dan suami hidup menumpang, makanya segala resiko yang kemudian muncul ya harus kita terima dengan ikhlas dan lapang dada.

Dari sini akhirnya saya bisa memetik sebuah pelajaran, bahwa hidup seatap dua nafas itu pasti banyak hal yang tidak mengenakkan.  Ketika mengambil suatu keputusan untuk itu berarti kita harus siap dengan berbagai resiko yang bakal terjadi di kemudian hari.  Hidup itu memang indah pada awalnya tapi bukan berarti akan selamanya indah, pasti ada onak dan duri yang kadang menghadang.  Ketika kita bisa sabar dan menerima keadaan pasti lambat laun kita pasti bisa keluar dari kesulitan itu.

Jadi, andai kata ada diantara Anda yang mengalami hal yang serupa seperti saya, jangan anggap sebagai sebuah beban.  Tetapi terimalah dengan hati yang lapang.  Sabar, bisa menghormati orang lain itu kuncinya ketika kita berintaksi dengan orang lain.  Dengan keluarga sendiri saja kadang bisa menimbulkan selisih paham apalagi dengan orang lain?
Categories:
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...