27 Mei 2013

Posted by Sri Wahyuni on 11:14 AM 8 comments

Wanita itu menangis bukan karena cengeng.........namun, tak lain adalah sebagai bentuk ungkapan perasaannya.  Sesungguhnya dengan menangis, akan membantu meringankan semua beban yang ia pendam selama ini. Maka menangislah jika itu akan membuatmu lega, hingga seolah kau terbebas dari segala rasa yang menghimpitmu

 Di keheningan malam, saat ku terjaga dari tidur malamku, tiba-tiba kuingat akan satu hal.  Bahwa besok pagi anakku akan mulai melaksanakan Ujian Kenaikan Kelas.  Hal yang sepele sebenarnya.  Mungkin orang lain akan menganggapnya biasa.  Apalagi anakku masih tergolong anak bawang, karena masih kelas 2 SD.  Tidak ada yang perlu ditakutkan.  Anak seusia dia kalau dilihat dari kemampuan baca tulisnya menguasai, kemampuan menjawab soal-soal di sekolah masih bisa, pastinya sudah tentu naik kelas.

Namun....entahlah dengan diriku.  Mengapa aku terlalu jauh memikirkannya.  Seolah ada ketakutan yang tengah bergelanyut di dadaku.  Atau mungkin aku hanyalah seorang ibu yang selalu dikejar-kejar oleh sebuah tuntutan.  Sementara tuntutan itu mau tidak mau harus dipenuhi.  Ya...mungkin otakku sudah dipenuhi oleh sebuah keegoan seorang ibu yang menginginkan anaknya menjadi bintang.  Anakku harus pandai, anakku harus mendapat nilai bagus, anakku harus meraih juara kelas, dan kata harus lainnya yang mungkin akan diragukan jawabannya antara "ya" dan "tidak".

Bahkan, seolah terus berkubang dalam egoku, aku tak pernah berpikir tentang anakku, tentang kemampuannya.  Yang kuinginkan adalah "harus", "harus" dan "harus".  Selalu itu saja yang ada dalam benakku.  Padahal, bila sedikit saja aku menyadarinya, sesungguhnya dia anak yang hebat.  Bagaimana tidak hebat.....bila ia bisa mempelajari dan menguasai semua mata pelajaran di sekolah, meski jalannya masih terbata-bata.  Allah menciptakan manusia tentunya dengan di bekali otak, pikiran dan nalar.  Pantas saja bila anak seusia anakku yang belum genap 8 tahun masih belum dewasa betul.  Kadang naluri kekanak-kanakannya masih muncul.  Namun, harusnya aku sadar, bahwa setiap anak yang dilahirkan ke bumi ini pasti membawa sesuatu yang unik dalam dirinya.  Lantas, akupun membayangkan tentang anakku, mengurai cerita lalu tentang anakku.

Masih jelas kuingat kala dia kecil, dengan lihainya diikutinya setiap lagu baru yang didengarnya.  Bak seorang gitaris handal, ia perankan lakon itu, meski dengan alat seadanya. Ia pakai raket tenisku sebagai gitar, sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah seperti roker yang lagi pentas.  Hmmm, lucu juga bila ingat itu.

Bahkan akhir-akhir ini saat Tegar si pengamen cilik lagi naik daun, ia buru-buru meminjam modemku.  Dengan lihainya ia buka netbookku, ia otak-atik semuanya hingga menemukan lagunya Tegar.  Hebatnya, saat ini ia sudah bisa menirukan gaya Tegar menyanyi dan hafal dengan lirik lagunya Tegar.  Sungguh kau sebenarnya anak yang pandai nak!!!

Kembali kulihat anakku yang masih terbaring di tempat tidurnya, kuamati wajahnya.  Lalu tanpa kusadari butiran air mata satu persatu perlahan jatuh di pipiku.  Aku menyesal!!!  Ego dan angkuhku telah memaksa anakku untuk melakukan yang kuinginkan.  Padahal jauh dari itu, anakku sebenarnya mempunyai kemampuan yang mungkin tidak dimiliki anak lain.
Lantas ......kuambil air wudhu, kuingin bersujud, memohon ampun kepada Allah.  Kupasrahkan segalanya hanya kepada Allah, tentang anakku, tentang ujiannya yang akan segera berlangsung.  Hanya Allahlah tempatku mencurahkan segala rasaku, dan aku yakin anakku pasti bisa menjadi yang terbaik serta sanggup menjadi bintang di hatiku.

Sekali lagi, untuk yang satu ini aku kembali menangis....................
Categories:
Reaksi:

8 komentar:

  1. Maaak, akupun masih selalu menangis setiap tahun jika melihat berita UAN, sweaar, meskipun enggak ada sodara, adek, anak yang sedang ujian *empati mungkin ya? enggak tahu deh klo besok anakku ujian *hihii...

    Serahkan sama Allah saja, kita berdoa dan menyemangati anak ya,

    Salam
    Astin

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak, betul ternyata hanya kepasrahan kita kepada Allah yang membuat kita lebih tenang menghadapinya, meskipun air mata itu tetap ada.

      Salam kenal

      Hapus
  2. Mak, masukan aja, antar paragraf dikasih spasi biar mata enggak lelah bacanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mak masukannya, lain kali saya ubah cara penulisannya, maklum nulisnya buru sambil nunggu waktu jemput anak

      Hapus
  3. Memang sudah jelas tuh mak, ego itu harus dikantongi. Bisa bahaya kalau tetap ada dalam benak. Biarkan anak2 tumbuh sewajarnya, dengan tetap memberi bimbingan, bukan tuntutan.

    Anakku yg no 3, berbeda dengan kakak2nya. Secara nilai akademis dia kurang. Tapi dia cekatan dalam memasak, ketrampilan, dan musik. Jadi aku dan suami berusaha asal dia naik kelas. Sambil mencoba mensupport kemampuan dia dibidang lain.

    Kita memang sering tau teori2 mendidik anak ya mak, tapi pada saat dihadapkan dengan kenyataan, kita sering khilaf. Semoga semua berjalan baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasiiiihh banyak masukannya mak, secara sangat bermanfaat banget !!! ya memang kita sepatutnya dan seharusnya mengubah cara pandang kita tentang anak

      Hapus
  4. hahahaha xD nangis bukan berarti vengeng kan sob?

    Ziarah balik sob!
    http://lutfiezard.blogspot.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, itulah wanita, yang selalu menangis disetiap masalahnya, tapi bukan berarti cengeng lho......ok blogwalking

      Hapus

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...