11 Mei 2013

Posted by Sri Wahyuni on 11:32 PM No comments

picasaweb.google.com
Bunda, pernahkah merasakan jenuh, lelah atau sejenisnya?  Itulah yang saya rasakan saat ini.  Semua rasa yang tidak mengenakkan saat ini tengah bergemuruh dalam batin saya.  Lantas saya berusaha berjuang untuk bisa lepas dari cengkeramannya. 
Sebagai ibu rumah tangga yang murni hanya mengurus ke-rumahtangga-an saya yakin bukan hanya saya yang mengalami hal semacam ini.  Pasti ada bunda-bunda yang merasakan jenuh atau bosan mengurus segala hal yang berhubungan dengan urusan dapur.  Inilah yang membawa saya untuk sejenak cooling down, berusaha menghilangkan segala rasa yang seharusnya tidak bergelanyut dalam rasa saya.
Tenang, sabar dan introspeksi diri, inilah cara saya yang kemudian membawa saya untuk sejenak berpikir.  Bahwa wanita memang sudah digariskan menjadi seorang istri yang baik bagi suaminya dan menjadi ibu yang bijak bagi anak-anaknya. 
Dalam diam lalu saya merenung, sejenak berdebat dalam tanya. Andai sebuah rumah tangga tidak ada ibu, lantas siapa yang akan mengurus suami dan anak-anak?  Siapa yang akan menyiapkan makan, siapa yang akan mencuci baju lalu menyetrikanya, atau siapa yang akan membersihkan rumah dan halaman?  Selalu tanya itu yang memenuhi otak saya.  Di sisi lain, siapapun tidak boleh meremehkan peran suami dalam rumah tangga.  Tanpa istri, suami masih bisa bertahan, bisa mengurus rumah tangga, bisa menggaji pembantu.  Tapi, relakah peran kita sebagai ibu digantikan oleh pembantu? Atau tanggung jawab kita beralih ke suami? Pasti semua ibu akan berkata “tidak”.
Di mata saya, ibu mempunyai kedudukan yang mulia dan tak bisa tergantikan oleh siapapun.  Bekerja keras tiap hari, tanpa mengenal lelah.  Menyiapkan segala urusan rumah tangga demi orang-orang yang dicintainya. Tak pernah mengharap imbalan.  Rasa capek pun tak pernah dihiraukan.  Hanya satu yang diinginkan: “senyum”. Seorang ibu akan merasa bahagia bila ia bisa membuat orang-orang yang dicintainya bisa tersenyum setiap saat.  Inilah yang membuat ibu akan terus berjuang demi mendapatkan seuntai senyum. Ya, walau hanya sebuah senyuman, itu sudah lebih dari cukup.
Andai seorang wanita karier bisa menikmati istirahat di sela-sela jam kerjanya, tidak demikian dengan ibu rumah tangga.  Bisakah seorang ibu rumah tangga berhenti sejenak untuk tidak menyelesaikan urusan rumah tangga?  Tentu jawabnya tidak bisa.  Andaipun berusaha meliburkan diri dari urusan kerumahtanggaan pasti akan banyak imbasnya di kemudian hari.  Cucian banyak, setrikaan menumpuk, rumah tak terawat, suami dan anak kurang diperhatikan.  Akhirnya kita sendiri yang pusing.
Inilah ibu, yang harus siaga 1 x 24 jam, 7 hari dalam seminggu, 4 minggu dalam sebulan dan seterusnya.  Intinya harus siap setiap saat dibutuhkan.  Hanya rasa yang tulus dan ikhlas yang bisa membuat ibu mampu berjuang demi keluarganya.
Yah, inilah hasil dari cooling down saya.  Saya telah menemukan sesuatu yang baru, yang membuat saya kembali bersemangat untuk menjalani hari-hari saya sebagai seorang ibu rumah tangga.  Bahwa bahagia itu ketika saya melihat orang-orang yang saya cintai bisa tersenyum.  Maka saya akan membuat mereka tersenyum, bagaimanapun cara saya, yang jelas saya akan berjuang untuk itu.
Categories:
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar yang sopan dan tidak saru, berkomentarlah menggunakan nama yang jelas, jangan nyepam atau meninggalkan konten dan link jualan, jadilah blogger yang sportif demi membangun hubungan baik. Terima kasih sudah mengunjungi blog ini...